ASWAJA VS PROBLEM GEN Z

Gentra.id-Trust issue, overthinking, scrolling tanpa henti, lalu pusing sendiri. Seolah-olah itulah rutinitas fardu 'ain sebagian Gen Z hari ini. Katanya generasi paling melek teknologi, tetapi justru menjadi generasi yang paling sering dihantam krisis mental, identitas, dan makna hidup.
Gen Z hidup di zaman yang semuanya serba cepat: informasi cepat, tren cepat, viral cepat, bahkan marah dan menghakimi pun serba cepat. Ironisnya, di tengah koneksi tanpa batas, banyak yang justru kehilangan arah dan merasa kosong. Belum lagi realitas hidup yang tidak selalu seindah konten media sosial: lulus kuliah dengan biaya besar, pekerjaan belum jelas, dompet makin tipis, tetapi gaya hidup harus tetap "on" demi FOMO dan validasi.
Lalu muncul pertanyaan sederhana: yang sedang bermasalah itu dunia, atau Gen Z yang terlalu berlebihan?
Menurut saya, jawabannya bukan keduanya. Yang benar adalah setiap generasi memiliki ujian sesuai zamannya. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa akan datang masa-masa penuh tipu daya; kebohongan dianggap kebenaran, orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, orang amanah dicurigai, bahkan orang yang tidak memiliki kapasitas ikut menentukan arah opini publik. Fenomena ini terasa sangat dekat dengan realitas era digital hari ini.
Artinya, Islam tidak asing dengan problem zaman. Justru Islam hadir untuk memberi arah di tengah perubahan. Di sinilah Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) menjadi relevan, bukan hanya sebagai identitas keagamaan, tetapi sebagai cara berpikir dan cara hidup.
Tawasuth (moderat) melawan FOMO. Aswaja mengajarkan keseimbangan. Tidak semua tren harus diikuti, tidak semua yang viral harus dijadikan standar hidup.
Tasamuh (toleran) melawan budaya menghakimi (judge culture). Berbeda pendapat tidak harus saling membenci. Media sosial sering mengajarkan untuk cepat menghukum, sedangkan Aswaja mengajarkan untuk memahami sebelum menghakimi.
Tawazun (seimbang) melawan overthinking. Hidup tidak hanya mengejar dunia, tetapi juga ketenangan jiwa. Ikhtiar harus berjalan beriringan dengan tawakal.
I'tidal (adil dan proporsional) melawan cancel culture. Jangan menilai seseorang hanya dari satu kesalahan atau satu potongan video. Keadilan menuntut kita melihat persoalan secara utuh.
Amar ma'ruf nahi munkar dengan hikmah melawan toxic comment. Kritik tetap penting, tetapi harus disampaikan dengan ilmu, adab, dan tujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar Gen Z bukanlah teknologi, melainkan cara menggunakan teknologi. Bukan kurang informasi, tetapi kurang kebijaksanaan dalam menyaring informasi. Bukan kurang teman, tetapi kurang ketenangan. Bukan kurang akses, tetapi kurang arah.
Karena itu, Aswaja bukan sekadar warisan ulama, melainkan kompas moral di tengah dunia yang bergerak begitu cepat.
Jadilah Gen Z yang modern tanpa kehilangan adab, kritis tanpa sinis, religius tanpa fanatis, dan aktif di dunia digital tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, teknologi boleh berkembang tanpa batas, tetapi akhlak tetap harus menjadi batasnya.
Sekretaris GMNU Kota Tasikmalaya
Deden Faiz Taptajani, S.Sos. merupakan aktivis muda Kota Tasikmalaya yang aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kota Tasikmalaya, dengan fokus mendorong penguatan peran pemuda, pengembangan kepemimpinan, serta pengabdian kepada masyarakat. Selain aktif di GMNU, Ia juga dikenal sebagai pemerhati isu-isu sosial dan kebijakan publik yang konsisten menyuarakan aspirasi masyarakat melalui berbagai ruang diskusi dan advokasi.




