
Gentra.id-TASIKMALAYA — Pelajaran tentang keberagaman biasanya hadir melalui buku, penjelasan guru, atau materi yang tersusun di dalam ruang kelas. Namun bagi siswa-siswi kelas VIII MTs Al Mukhtariyah Kota Tasikmalaya, keberagaman kali ini tidak berhenti sebagai materi pelajaran.
Mereka keluar dari ruang kelas dan mendatangi langsung tempat umat lain menjalankan keyakinannya.
Dalam kegiatan outing class, para siswa mengunjungi Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Tasikmalaya di Jalan Empang dan Vihara Avalokitesvara di Jalan Pemuda, Kota Tasikmalaya, Rabu, 16/9/2026.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN), terutama untuk mengenalkan keberagaman, toleransi, moderasi beragama dan nilai Bhinneka Tunggal Ika.
Di tempat-tempat tersebut, para siswa tidak sekadar datang, melihat bangunan, lalu pulang. Mereka mendapatkan kesempatan mengenal tradisi dan kehidupan umat beragama lain sekaligus berdialog dengan tokoh agama yang menerima kedatangan mereka.
Bagi MTs Al Mukhtariyah, cara belajar semacam ini diperlukan karena keberagaman Indonesia bukan sekadar konsep yang tertulis dalam buku pelajaran. Ia merupakan kenyataan yang ditemui setiap hari di tengah masyarakat.
Kepala MTs Al Mukhtariyah, Asep Rizal Asy’ari, mengatakan pendidikan mengenai keberagaman perlu ditanamkan sejak dini agar anak-anak tumbuh dengan sikap terbuka dan mampu menghargai perbedaan.
“Anak harus diajarkan tentang keberagaman dan moderasi beragama dalam konteks memahami kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka harus melihat bahwa Indonesia dibangun dari berbagai perbedaan, tetapi tetap bisa hidup bersama dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Asep.

Menurut Asep, membawa siswa mengunjungi tempat ibadah umat agama lain bukan berarti mencampuradukkan keyakinan. Kegiatan tersebut justru diarahkan sebagai pembelajaran sosial agar siswa memahami bahwa masyarakat Indonesia terdiri atas berbagai latar belakang agama dan budaya.
“Kita ingin anak-anak memahami bahwa menghormati agama dan keyakinan orang lain adalah bagian dari sikap sebagai warga negara. Mereka tetap teguh dengan keyakinannya, tetapi pada saat yang sama mampu menghargai orang lain yang berbeda,” katanya.
Ruang Kelas yang Dipindahkan ke Tengah Masyarakat
Asep melihat pembelajaran keberagaman pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan ketika siswa diajak mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan budaya.
Ia mengambil contoh Candi Borobudur. Ketika siswa berkunjung ke situs tersebut, mereka tidak hanya melihat bangunan, tetapi juga mempelajari sejarah, budaya dan keberagaman yang menyertainya.
Hal serupa coba dihadirkan MTs Al Mukhtariyah di lingkungan Kota Tasikmalaya. Bedanya, kali ini objek pembelajaran berada lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
“Kalau kita membawa anak-anak ke Borobudur, mereka belajar sejarah, budaya dan keberagaman. Sekarang kita hadirkan pembelajaran itu di Kota Tasikmalaya. Mereka melihat secara langsung tempat ibadah umat Khonghucu dan Buddha, berdialog, mengenal tradisinya, serta memahami bahwa keberagaman adalah kenyataan yang harus dihargai,” ungkap Asep.
Dari sana, pelajaran tentang Pancasila menjadi lebih konkret. Siswa tidak hanya menghafal semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi mencoba memahami bagaimana nilai tersebut hadir dalam hubungan antarmanusia.
Disambut Hangat Umat Khonghucu dan Buddha
Kehadiran rombongan siswa MTs Al Mukhtariyah juga mendapat sambutan positif dari tokoh lintas agama di Kota Tasikmalaya.
Perwakilan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Tasikmalaya, Sudirjo, menyampaikan apresiasinya atas kunjungan tersebut. Menurutnya, pertemuan seperti ini dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan keberagaman kepada generasi muda sekaligus membangun kebersamaan.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungan dari MTs Al Mukhtariyah. Semoga kegiatan ini semakin memperkuat kebersamaan dan menjadi warisan nilai bagi generasi muda menuju Indonesia Emas,” ujar Sudirjo.
Sementara itu, pimpinan umat Buddha Kota Tasikmalaya dari Vihara Avalokitesvara, Andi William, juga menyambut baik kedatangan para siswa.
Ia menilai perjumpaan lintas agama sejak usia sekolah dapat menjadi pengalaman penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
“Kami sangat bahagia menerima kunjungan ini. Program seperti ini sangat luar biasa karena ada pembentukan karakter bagi generasi muda Indonesia untuk saling mengenal budaya bangsa dan memahami keberagaman,” tuturnya.
Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan toleransi tidak selalu harus berlangsung dalam bentuk seminar atau ceramah. Dialog sederhana dan perjumpaan langsung dapat menjadi pengalaman yang membekas bagi siswa.
Dari Materi Pelajaran Menjadi Pengalaman
Bagi siswa, kunjungan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran rutin di kelas.
Zenfi Zahratunisa, salah seorang siswi peserta kegiatan, mengaku mendapatkan pengetahuan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya mendapatkan pengetahuan tentang perbedaan dan keberagaman yang ada di Indonesia. Dari kegiatan ini saya jadi lebih memahami bahwa Indonesia memiliki banyak perbedaan yang harus kita hormati,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang ingin dibangun MTs Al Mukhtariyah. Sekolah tidak hanya menempatkan kemampuan akademik sebagai tujuan pembelajaran, tetapi juga berusaha membentuk siswa agar memiliki sikap terbuka, toleran dan mampu hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda latar belakang.
Di titik ini, outing class menjadi lebih dari sekadar kegiatan keluar sekolah. Ada upaya memindahkan proses belajar dari papan tulis menuju ruang sosial yang sesungguhnya.
Siswa melihat tempat ibadah, bertemu dengan umat berbeda agama, mendengar penjelasan dan merasakan sendiri suasana perjumpaan tersebut. Dari pengalaman itu, konsep keberagaman yang sebelumnya mungkin terasa abstrak menjadi sesuatu yang nyata.
Asep menegaskan, pengalaman langsung penting agar siswa tidak mengenal keberagaman hanya melalui teori.
“Jangan sampai anak-anak kita mengenal keberagaman hanya dari teori. Mereka harus mengalami, melihat dan memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru keberagaman harus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia,” pungkasnya.
Dari Jalan Empang hingga Jalan Pemuda, pelajaran hari itu pada akhirnya bukan hanya tentang mengenal tempat ibadah umat Khonghucu dan Buddha. Ada pesan yang lebih luas yang dibawa pulang para siswa: bahwa Indonesia memang dibangun dari banyak perbedaan, dan kehidupan bersama membutuhkan kemampuan untuk mengenali, memahami serta menghormati perbedaan tersebut.
Bhinneka Tunggal Ika pun tidak berhenti sebagai kalimat yang dihafalkan untuk ujian. Ia mulai dicoba dalam bentuk yang paling sederhana—berjumpa, berdialog dan menghormati sesama.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Belajar Kebhinekaan Tak Cukup di Kelas, Siswa MTs Al Mukhtariyah Kunjungi Tempat Ibadah Lintas Agama

Pemkot Banjar Dorong Kepastian Hukum Pengelolaan Aset dan Kontrak Daerah

Polres Garut Ambil Sampel DNA Keluarga Korban Kapal Virgo 8

Hadiri MATAMA Cipasung, Wabup Tasikmalaya Titip Pesan untuk Mahasiswa Baru

Purbaya Serahkan Kursi Menkeu ke Suahasil, Estafet di Tengah Tantangan Ekonomi
