Dari Ombak Masalembo ke Velbed Banjarmasin: Kisah Korban Selamat KM Virgo Transport 8

14 Sep 2026, 14.33 WIB
WhatsAppSaluran
Dari Ombak Masalembo ke Velbed Banjarmasin: Kisah Korban Selamat KM Virgo Transport 8
Petugas gabungan mengecek kesehatan korban kapal motor penumpang (KMP) Virgo Transport 8 di Posko Kesehatan Pelabuhan Tri Sakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (13/9/2026)Camera[ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/hma]

Gentra.id-BANJARMASIN — Ombak Laut Jawa belum juga reda di ingatan mereka. Namun setidaknya, Minggu malam itu, 69 pasang kaki akhirnya menapak kembali di daratan. Bukan daratan yang mereka duga, tapi setidaknya bukan lagi gelombang yang mengamuk.

MV Haida bersandar di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, sekitar pukul 18.00 WITA. Kapal itu membawa 69 korban selamat dari KM Virgo Transport 8, kapal penumpang yang terbalik di perairan Masalembo setelah dihantam cuaca buruk sejak dini hari. Dari total 243 orang yang berada di atas kapal, baru 107 yang dinyatakan selamat, sementara enam lainnya meninggal dunia dan 130 masih dalam pencarian.

Begitu gangway diturunkan, ruang induk Terminal Trisakti yang biasanya jadi tempat menunggu penumpang, malam itu berubah wajah. Velbed berjejer, tabung oksigen bersiap di sudut, dan petugas medis dengan celemek hijau bergerak cepat di antara korban. Tidak ada meja pemeriksaan mewah. Yang ada hanya lampu terminal, tensimeter, dan tangan-tangan yang bekerja tanpa henti

Tiga Zona, Satu Tujuan: Menyelamatkan yang Tersisa

Petugas PMI Banjarmasin, Alfi, berdiri di tengah pusaran itu. Ia dan tim gabungan dari Dinas Kesehatan serta unsur SAR memutuskan satu hal sejak awal: tidak semua korban bisa ditangani dengan cara yang sama. Mereka membagi area terminal menjadi tiga zona.

"Penanganan korban kami bagi menjadi tiga zona, yaitu zona hijau untuk korban dengan luka ringan, zona kuning untuk korban luka sedang, dan zona merah untuk korban yang mengalami luka berat," kata Alfi, Minggu malam, dilansir dari suara.com

Zona hijau diisi mereka yang masih bisa berjalan sendiri, meski tatapan matanya kosong. Zona kuning untuk yang butuh bantuan bergerak, yang tubuhnya lemah tapi belum kehilangan kesadaran. Sementara zona merah — area paling sunyi — diisi mereka yang sesak napas, mengalami trauma berat, atau kesadarannya menurun. Di sana, oksigen dan infus menjadi pemandangan biasa.

Seorang pria paruh baya duduk di tepi velbed, kedua tangannya menggenggam selimut tipis. Ia tidak bicara banyak. Hanya sesekali menoleh ke arah pintu terminal, seolah masih mencari seseorang yang mungkin tidak ikut turun dari kapal.

Ketika Ambulans Menjadi Garis Terakhir

Di luar gedung terminal, deru mesin ambulans tidak pernah benar-benar berhenti. Petugas medis sudah menyiagakan kendaraan-kendaraan itu sejak kapal terlihat di ufuk. Begitu ada korban yang masuk kategori merah, proses rujukan ke rumah sakit terdekat bergerak cepat.

Lima korban dilaporkan dilarikan ke RSUD Ulin Banjarmasin, sementara sisanya menjalani perawatan di posko medis terminal. Tapi bagi keluarga yang menunggu di luar, setiap ambulans yang melintas membawa dua kemungkinan: kabar baik atau kabar yang paling ditakuti.

Terminal Trisakti malam itu bukan hanya tempat penanganan medis. Ia menjadi ruang tunggu raksasa yang dipenuhi kecemasan. Petugas keamanan berusaha mensterilkan area, membatasi akses, tapi tidak bisa membendung gelombang manusia yang ingin tahu: siapa yang selamat, siapa yang belum ditemukan.

Yang Masih Tertinggal di Laut

Sementara 69 orang itu menjalani pemeriksaan, operasi pencarian di Laut Jawa belum berhenti. Basarnas masih menyisir perairan tempat KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 02.00 WITA, setelah nakhoda melaporkan kapal mulai miring akibat cuaca buruk. Kapal itu berlayar dari Surabaya sejak Sabtu pagi, membawa 243 orang — sebagian besar sopir dan kernet yang hendak menyeberang ke Kalimantan.

KNKT sudah mulai mengumpulkan data dan mewawancarai korban selamat. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan prioritas saat ini adalah mendukung operasi SAR, sembari mengumpulkan spesifikasi kapal dan keterangan dari kru.

Di terminal, di antara velbed dan selimut, seorang anak muda menatap layar ponselnya. Mungkin ia sedang mengabari keluarga bahwa ia selamat. Atau mungkin sedang menunggu kabar dari seseorang yang belum turun dari kapal mana pun.

Epilog di Ujung Malam

Malam semakin larut di Pelabuhan Trisakti. Zona merah perlahan kosong, sebagian korban sudah dirujuk ke rumah sakit. Zona kuning dan hijau masih dipenuhi orang-orang yang duduk bersandar, ditemani relawan dan petugas medis yang sesekali memeriksa tekanan darah.

Malam itu masih menyisakan trauma mendalam bagi para korban. Setidaknya saat ini dipenuhi rasa lega, wakaupun masih menyisakan kecemasan, bahwa perjalanan belum selesai. Karena di suatu tempat di Laut Jawa, masih ada 130 nama yang belum ditemukan. Dan di Banjarmasin, masih ada keluarga yang belum berani pulang.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.