Gunung Ciremai Terbakar, Jalur Pendakian Ditutup Total

9 Sep 2026, 20.49 WIB
WhatsAppSaluran
Gunung Ciremai Terbakar, Jalur Pendakian Ditutup Total
Kebakaran melanda kawasan hutan Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jalur pendakian ditutup sementara untuk mengantisipasi keselamatan pendaki dan mencegah meluasnya kebakaran.CameraDok. BPBD

Gentra.id-KUNINGAN — Asap masih menggantung di kawasan hutan Gunung Ciremai ketika tim gabungan terus bergerak menahan laju api. Di tengah musim kemarau yang membuat vegetasi mengering, kobaran api menjalar di sejumlah blok kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu pertama kali terpantau pada Senin (7/9/2026) sekitar tengah hari. Api muncul di kawasan Blok Cileutik, Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, sebelum kemudian merembet ke sejumlah titik lain, termasuk Blok Manguntapa dan Cimaung.

Hingga Rabu (9/9/2026), proses pemadaman masih berlangsung. Kondisi medan yang terjal, vegetasi yang mengering, cuaca panas, serta hembusan angin yang berubah-ubah membuat petugas harus bekerja ekstra keras agar api tidak semakin meluas.

Ratusan personel gabungan dikerahkan. Mereka berasal dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), BPBD Kabupaten Kuningan, TNI-Polri, relawan, hingga masyarakat peduli api. Selain memadamkan titik api, petugas juga membuat penyekatan untuk menghentikan pergerakan kobaran menuju kawasan hutan lainnya.

Laporan terbaru menyebut sekitar 40 hektare kawasan telah terdampak kebakaran. Sejumlah titik api mulai berhasil dikendalikan, tetapi asap masih terlihat di beberapa lokasi sehingga kondisi kawasan belum sepenuhnya dinyatakan aman.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun menyebut angin menjadi salah satu faktor yang membuat api cepat menyebar. Pada Senin malam, angin tercatat bertiup dengan kecepatan sekitar 12,5 hingga 20 kilometer per jam dari arah selatan menuju utara.

Kondisi tersebut membuat arah pergerakan api sulit diprediksi. Ditambah medan pegunungan yang terjal dan keterbatasan sumber air, proses pemadaman tidak bisa dilakukan seperti menangani kebakaran di kawasan permukiman.

Petugas pun mengandalkan berbagai peralatan, mulai dari mesin pompa, selang, nosel, jetshooter hingga kendaraan operasional untuk menjangkau lokasi yang sulit. Pemadaman manual dan penyekatan juga dilakukan untuk memperlambat pergerakan api.

Di tengah situasi tersebut, aktivitas pendakian Gunung Ciremai sudah lebih dulu dihentikan. Penutupan seluruh jalur pendakian merupakan langkah antisipasi menghadapi tingginya risiko karhutla selama musim kemarau.

Balai TNGC sebelumnya telah menetapkan penutupan sementara aktivitas wisata alam dan pendakian Gunung Ciremai. Kebijakan tersebut diberlakukan sejak awal September dan berlangsung sampai kondisi kawasan dinyatakan aman.

Artinya, untuk sementara tidak ada langkah kaki pendaki menuju jalur-jalur yang biasanya menjadi pintu masuk menuju puncak Ciremai. Sistem pemesanan tiket pendakian secara daring juga dihentikan.

Bagi calon pendaki yang sebelumnya telah melakukan pemesanan, pengelola memberikan opsi penjadwalan ulang atau penyesuaian lainnya melalui layanan resmi BTNGC.

Keputusan tersebut kini terasa semakin relevan setelah kebakaran benar-benar terjadi di kawasan taman nasional.

Gunung Ciremai bukan sekadar tujuan pendakian. Kawasan ini merupakan bentang alam konservasi yang menyimpan hutan, sumber air, habitat satwa serta ekosistem yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, kebakaran yang terjadi tidak hanya menyisakan persoalan tentang luas lahan yang terbakar. Ada ekosistem yang harus dipulihkan, vegetasi yang membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali, serta potensi gangguan terhadap keseimbangan lingkungan.

Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi kawasan konservasi. Vegetasi yang kehilangan kelembapan akan lebih mudah terbakar, sementara angin dapat membuat api bergerak lebih cepat dari perkiraan.

Kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa keselamatan kawasan hutan sangat bergantung pada kewaspadaan manusia. Api kecil yang muncul di kawasan kering dapat berubah menjadi ancaman besar ketika bertemu angin dan bahan bakar alami berupa rerumputan, ranting, serta pepohonan yang mengering.

Untuk itu, masyarakat maupun wisatawan diminta mematuhi penutupan kawasan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api selama musim kemarau.

Sementara di lereng Ciremai, petugas masih berjibaku. Api dilawan sedikit demi sedikit, dari satu titik ke titik lainnya. Asap yang tersisa menjadi tanda bahwa pekerjaan belum selesai.

Gunung yang biasanya menjadi tujuan para pendaki kini membutuhkan jeda. Bukan untuk ditaklukkan dengan langkah kaki, melainkan diberi kesempatan untuk diselamatkan dari ancaman api.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.