Sumur Mengering, Polres Ciamis Bangun Pipanisasi untuk Warga Mekarjadi

10 Sep 2026, 13.49 WIB
WhatsAppSaluran
Sumur Mengering, Polres Ciamis Bangun Pipanisasi untuk Warga Mekarjadi
Polres Ciamis membangun pipanisasi sepanjang 300 meter untuk memudahkan akses air bersih bagi sekitar 80 kepala keluarga di Desa Mekarjadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Rabu (9/9/2026).CameraTribata Polri

Gentra.id-CIAMIS — Musim kemarau membuat air menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan warga Desa Mekarjadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis. Ketika sumur-sumur mengering, sumber air yang tersisa berada lebih rendah dari permukiman. Warga harus turun naik medan yang cukup jauh sambil membawa ember untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi sebagian warga, perjalanan mengambil air mungkin hanya terlihat sebagai aktivitas sederhana. Namun bagi warga lanjut usia, medan seperti itu bukan perkara ringan. Setiap ember yang dibawa dari sumber air berarti tenaga tambahan yang harus dikeluarkan, terutama ketika musim kering membuat kebutuhan air semakin sulit dipenuhi.

Kondisi tersebut kemudian mendorong jajaran Polres Ciamis membangun saluran pipanisasi sepanjang sekitar 300 meter. Pembangunan dilakukan pada Rabu, 9 September 2026, untuk mendekatkan akses sumber air kepada permukiman warga.

Ketika Sumur Tak Lagi Mengeluarkan Air

Persoalan air bersih di Mekarjadi bukan baru muncul ketika kemarau tahun ini. Warga mengaku kondisi serupa hampir selalu mereka rasakan ketika musim kering datang.

Ajat Sudrajat, warga Desa Mekarjadi, mengatakan banyak sumur milik warga yang tidak lagi dapat diandalkan. Sumur dengan kedalaman sekitar 15 meter bahkan mengalami kekeringan.

“Sumur-sumur di sini sebenarnya banyak, tetapi semuanya kering. Kedalamannya sekitar 15 meter, sudah tidak ada air. Jadi masyarakat sangat tergantung pada satu sumber air ini,” kata Ajat.

Ketergantungan terhadap satu sumber membuat persoalan air bukan sekadar tentang ada atau tidaknya air, tetapi juga tentang bagaimana warga dapat menjangkaunya.

Sumber air tersebut berada di bawah permukiman. Sebelum pipanisasi dibangun, warga harus berjalan menuju lokasi sumber kemudian membawa air menggunakan ember untuk kembali ke rumah.

Bagi warga yang masih kuat secara fisik, pekerjaan itu mungkin dapat dilakukan berulang kali. Tetapi bagi warga lanjut usia, perjalanan naik turun tersebut menjadi beban tersendiri.

Kondisi medan inilah yang menjadi salah satu pertimbangan Polres Ciamis membangun jaringan pipa.

300 Meter Pipa untuk Sekitar 400 Jiwa

Kapolres Ciamis AKBP Eko Iskandar mengatakan pembangunan pipanisasi dilakukan setelah pihaknya melakukan survei terhadap sejumlah lokasi yang mengalami kesulitan akses air.

“Ini kita dari jajaran Polres Ciamis membantu masyarakat di Desa Mekarjadi dengan memasang saluran pipa atau pipanisasi kurang lebih sepanjang 300 meter,” ujar Eko.

Menurutnya, pipanisasi diharapkan dapat mengurangi beban warga, khususnya pada musim kemarau ketika sumber air semakin sulit dijangkau.

“Sehari-hari masyarakat harus naik turun dari atas ke bawah membawa ember. Apalagi ini musim kering, sehingga sangat kesulitan. Kita membantu memasang saluran pipa sehingga memudahkan masyarakat mengakses sumber air,” katanya.

Saluran sepanjang sekitar 300 meter itu diperkirakan dapat membantu sekitar 80 kepala keluarga atau kurang lebih 400 jiwa.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan air di satu titik permukiman dapat menyentuh kehidupan ratusan orang. Pipanisasi bukan hanya pembangunan fisik berupa pipa, tetapi juga upaya memotong jarak antara sumber air dan kebutuhan rumah tangga.

Kekeringan Menjangkau Banyak Wilayah

Persoalan yang dihadapi warga Mekarjadi juga menjadi bagian dari persoalan kekeringan yang lebih luas di Kabupaten Ciamis.

Kapolres Ciamis menyebut berdasarkan data yang dimiliki, kekeringan terjadi di sekitar 15 kecamatan, 35 desa, dan sekitar 40 dusun.

Karena itu, penanganan tidak berhenti di Mekarjadi. Polres Ciamis menyatakan masih memetakan sejumlah lokasi lain yang membutuhkan bantuan. Sebelumnya, kepolisian juga membantu melalui pembangunan sumur bor di wilayah Mangunjaya.

Selain pembangunan sarana air, Polres Ciamis menyiapkan bantuan air bersih yang penyalurannya akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kekeringan membutuhkan lebih dari sekadar distribusi air ketika krisis terjadi. Infrastruktur seperti sumur bor dan pipanisasi menjadi penting agar masyarakat memiliki akses yang lebih dekat dan berkelanjutan terhadap sumber air.

Air yang Lebih Dekat, Beban yang Lebih Ringan

Bagi warga Mekarjadi, perubahan paling sederhana dari keberadaan pipa itu adalah berkurangnya perjalanan menuju sumber air.

Air yang sebelumnya harus diambil dengan tenaga dan waktu kini diupayakan dapat dialirkan lebih dekat ke permukiman. Harapan warga pun sederhana: kebutuhan air untuk memasak, mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya dapat dipenuhi tanpa harus berulang kali menempuh medan yang sulit.

Ajat mengapresiasi bantuan tersebut. Menurutnya, perhatian terhadap persoalan air sangat berarti bagi warga yang setiap tahun menghadapi kekeringan.

“Alhamdulillah ada kepedulian dari Kapolres. Kami dan keluarga di sini mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang betul-betul peduli kepada masyarakat,” ujarnya.

Di tengah musim kemarau, 300 meter pipa mungkin terdengar sebagai ukuran yang sederhana. Namun bagi sekitar 80 keluarga di Mekarjadi, panjang itu berarti jarak yang dipangkas antara rumah dan sumber kehidupan.

Persoalan air bersih memang belum selesai hanya dengan satu jaringan pipa. Masih ada wilayah lain yang menghadapi kondisi serupa dan membutuhkan penanganan. Tetapi bagi warga yang sebelumnya harus turun naik membawa ember, saluran tersebut menjadi langkah penting: membuat air yang selama ini jauh menjadi lebih dekat.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.