
Gentra.id-TASIKMALAYA — Kebakaran hebat melanda permukiman warga di Kampung Satron, Desa Parumasan, Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (5/8/2026). Sebanyak 12 bangunan terdampak, terdiri dari 11 rumah warga dan satu bangunan MTs Al-Hidayah Satron.
Musibah tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga membuat 11 kepala keluarga (KK) atau 34 jiwa harus mengungsi. Hingga Jumat (7/8/2026), para korban masih menempati sejumlah lokasi pengungsian.
Mayoritas warga terdampak mengungsi di rumah keluarga atau kerabat terdekat. Sementara dua KK lainnya terpaksa mengungsi di madrasah setempat karena tidak memiliki keluarga yang tinggal di sekitar lokasi.
Kondisi tersebut membuat penanganan pascabencana terus dilakukan oleh pemerintah bersama unsur kebencanaan dan masyarakat.
Ketua Forum Koordinasi (FK) TAGANA Kabupaten Tasikmalaya, Jembar Adisetya, mengatakan lokasi pengungsian para korban masih tersebar di sekitar Kampung Satron dan Desa Parumasan.
“Jadi ada dua KK yang kebetulan jauh dari rumah keluarga dan kerabatnya, terpaksa sementara mengungsi di madrasah di Kampung Satron Desa Parumasan. Untuk 9 KK lainnya mengungsi di rumah saudaranya yang masih di Kampung Satron dan Desa Parumasan,” jelas Jembar.
TAGANA Dirikan Dua Tenda Posko
Untuk mendukung kebutuhan warga selama masa tanggap darurat, FK TAGANA Kabupaten Tasikmalaya mendirikan dua tenda di sekitar lokasi terdampak.
Tenda tersebut difungsikan sebagai posko penyimpanan bantuan, tempat menyimpan barang-barang milik korban, sekaligus pusat pelayanan bagi warga terdampak kebakaran.
Pendirian posko menjadi bagian dari upaya memastikan distribusi bantuan kepada korban berlangsung lebih terkoordinasi.
Jembar mengatakan, penanganan di lokasi juga melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI/Polri, BPBD, Relawan Penanggulangan Bencana (RPB), pemerintah Kecamatan Sodonghilir dan Pemerintah Desa Parumasan.
“Hari ini kami bersama TNI/Polri, BPBD, RPB, pemerintah Kecamatan Sodonghilir, Desa Parumasan akan gotong-royong melakukan pembersihan di area bekas kebakaran rumah warga,” kata Jembar.
Langkah tersebut dilakukan setelah proses pemadaman dan penanganan awal selesai, sekaligus untuk membersihkan material sisa kebakaran yang masih berada di sekitar permukiman.
Enam Rumah Ludes Terbakar
Berdasarkan pendataan pemerintah, kebakaran mengakibatkan 12 bangunan terdampak.
Sebanyak 11 bangunan merupakan rumah warga. Dari jumlah tersebut, enam rumah mengalami kerusakan berat atau terbakar hingga rata dengan tanah, dua rumah mengalami kerusakan sedang, dan tiga rumah mengalami kerusakan ringan.
Selain rumah warga, satu bangunan sekolah, yakni MTs Al-Hidayah Satron, juga mengalami kerusakan sedang.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material sementara diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 miliar.
Informasi awal di lapangan menyebutkan kebakaran diduga dipicu korsleting listrik. Api disebut pertama kali terlihat dari salah satu rumah warga sebelum kemudian membesar dan merembet ke bangunan lain.
Kondisi angin yang cukup kencang turut membuat api cepat menjalar.
Proses pemadaman juga menghadapi kendala karena sumber air berada cukup jauh dari titik kebakaran. Tim gabungan yang terdiri atas TAGANA, pemadam kebakaran, BPBD, TNI, Polri dan masyarakat kemudian melakukan penanganan secara bersama-sama.
Setelah berjibaku sekitar lima jam, api akhirnya berhasil dipadamkan.
Bantuan Tanggap Darurat Disalurkan
Sehari setelah kebakaran, Kamis (6/8/2026), Dinas Sosial PPKB P3A Kabupaten Tasikmalaya bersama FK TAGANA menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada 11 KK atau 34 jiwa terdampak.
Bantuan tersebut meliputi paket sembako APBD, kasur lipat, selimut, family kit, makanan siap saji APBN, lauk pauk APBN, sandang anak, popok bayi atau pampers, serta kids wear.
Penyaluran bantuan turut melibatkan Kecamatan Sodonghilir, Polsek Sodonghilir, Pemerintah Desa Parumasan, Kampung Siaga Bencana (KSB) Sodonghilir dan RPB.
Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa tanggap darurat, terutama bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan rumah.
Usulan Rehabilitasi Rumah Mulai Disiapkan
Penanganan terhadap korban kebakaran tidak berhenti pada bantuan darurat. TAGANA juga mulai mendorong proses rehabilitasi bagi warga yang rumahnya rusak berat.
Jembar mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan sejumlah lembaga, termasuk Baznas, Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat dan Kementerian Sosial.
“Kami sudah laporkan dan tindak lanjuti, dengan membuat surat ke Baznas untuk usulan dana rehabilitasi rumah terdampak kebakaran,” kata Jembar.
Selain rehabilitasi rumah, TAGANA juga mengusulkan bantuan perlengkapan keluarga dan peralatan dapur bagi 11 KK terdampak kepada Kementerian Sosial.
Menurut Jembar, skema rehabilitasi rumah nantinya masih akan dikoordinasikan dengan berbagai pihak, termasuk Dinas PUPR.
Salah satu opsi yang akan dibahas adalah pemanfaatan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) bagi warga yang memenuhi kriteria.
“Biasanya kalau rehab rumah ke Baznas itu sebagian di-cover Baznas, sebagian ada dana sharing swadaya,” paparnya.
Pemulihan Warga Jadi Perhatian
Kebakaran Kampung Satron kini memasuki tahap penanganan pascabencana. Setelah api berhasil dipadamkan, kebutuhan warga tidak hanya berupa makanan dan pakaian, tetapi juga tempat tinggal yang layak serta pemulihan kehidupan sehari-hari.
Pendirian dua tenda TAGANA menjadi salah satu langkah untuk mengonsolidasikan bantuan dan pelayanan bagi warga. Sementara pembersihan lokasi dilakukan secara gotong royong agar kawasan terdampak dapat segera ditata kembali.
Dengan 11 KK dan 34 jiwa terdampak, proses pemulihan diperkirakan membutuhkan dukungan lintas sektor. Terlebih enam rumah mengalami kerusakan berat dan tidak lagi dapat ditempati.
Pemerintah, TAGANA, unsur TNI/Polri, BPBD, pemerintah desa, relawan dan masyarakat kini diharapkan dapat terus berkoordinasi hingga kebutuhan dasar korban terpenuhi dan proses rehabilitasi rumah dapat direalisasikan.
Kebakaran di Kampung Satron menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak berhenti ketika api padam. Bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, masa sulit justru berlanjut pada tahap pemulihan.
Karena itu, keberlanjutan bantuan, kepastian tempat tinggal sementara, hingga rehabilitasi rumah menjadi bagian penting dari penanganan korban kebakaran di Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya.
Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

KPAI Desak Audit Total MBG, Kasus Keracunan Anak Dinilai Bukan Sekadar Kelalaian

Mau Kurus tapi Malas Olahraga? Dokter Ungkap Risikonya, Ini 9 Cara yang Bisa Dicoba

Kopi atau Teh Hijau Bisa Gagal Bantu Diet karena 5 Kesalahan Ini

Remaja 17 Tahun Bawa Mobil, Tabrak Motor hingga Balita Tewas

Ketua PW PGM Jabar Konsolidasi ke Cikalong, Dorong Profesionalitas Guru Madrasah
