
Gentra.id-JAWA BARAT — Kabar baik datang dari kondisi kemiskinan Jawa Barat. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 6,54 persen.
Penurunan tersebut membuat jumlah penduduk miskin di Jawa Barat menjadi sekitar 3,44 juta orang, berkurang 114,23 ribu jiwa dibandingkan September 2025.
Namun, di balik penurunan angka kemiskinan tersebut, masih terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian. Ketimpangan pengeluaran masyarakat Jawa Barat justru mengalami peningkatan.
BPS mencatat Gini Ratio Jawa Barat pada Maret 2026 berada di angka 0,413, naik 0,016 poin dibandingkan September 2025. Angka tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan pengeluaran antarkelompok masyarakat semakin melebar.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, secara umum kondisi kemiskinan mengalami perbaikan, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
“Baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, indikator kemiskinan di Jawa Barat secara umum membaik dibandingkan September 2025. Namun indikator ketimpangan mengalami kenaikan sehingga tetap perlu menjadi perhatian,” kata Ari.
Kualitas kemiskinan ikut membaik
Perbaikan tidak hanya terlihat dari jumlah penduduk miskin yang berkurang. Indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan juga menunjukkan perkembangan positif.
Indeks Kedalaman Kemiskinan atau P1 turun dari 1,14 menjadi 1,04. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan atau P2 turun dari 0,27 menjadi 0,23.
Penurunan kedua indikator tersebut menggambarkan adanya perbaikan kondisi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan.
Garis kemiskinan Jawa Barat pada Maret 2026 sendiri ditetapkan sebesar Rp609.790 per kapita per bulan. Komoditas makanan masih menjadi komponen terbesar dalam pembentukan garis kemiskinan, dengan kontribusi mencapai 74,48 persen.
Beras menjadi salah satu komoditas dengan kontribusi terbesar. Di wilayah perkotaan, beras menyumbang sekitar 21,33 persen terhadap garis kemiskinan, sedangkan di wilayah perdesaan mencapai 26,78 persen.
Selain beras, rokok kretek filter juga masuk dalam komoditas yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap garis kemiskinan.
Desa justru menghadapi tekanan
Persoalan lain terlihat ketika data kemiskinan dipisahkan berdasarkan wilayah perkotaan dan perdesaan.
Penurunan kemiskinan terutama terjadi di kawasan perkotaan. Jumlah penduduk miskin di perkotaan berkurang sekitar 124,61 ribu orang.
Sebaliknya, wilayah perdesaan justru mengalami penambahan penduduk miskin sebanyak 10,38 ribu orang. Tingkat kemiskinan di perdesaan juga tercatat meningkat sekitar 0,20 poin persentase.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perbaikan angka kemiskinan Jawa Barat belum sepenuhnya terjadi secara merata.
Dengan kata lain, angka kemiskinan provinsi memang bergerak turun, tetapi terdapat kelompok dan wilayah tertentu yang masih menghadapi tekanan ekonomi.
Ketimpangan menjadi pekerjaan rumah
Kenaikan Gini Ratio menjadi catatan penting di tengah keberhasilan menurunkan kemiskinan.
Secara sederhana, penurunan angka kemiskinan menunjukkan semakin sedikit masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Namun, indikator ketimpangan melihat persoalan yang berbeda, yakni seberapa jauh distribusi pengeluaran antara kelompok masyarakat yang satu dengan lainnya.
Karena itu, penurunan kemiskinan tidak otomatis berarti kesenjangan ekonomi ikut mengecil.
Data terbaru BPS Jawa Barat menunjukkan situasi tersebut. Kemiskinan turun menjadi 6,54 persen, tetapi Gini Ratio meningkat menjadi 0,413.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dan berbagai program pengentasan kemiskinan tidak hanya mengurangi jumlah masyarakat miskin, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap kesempatan ekonomi.
Terlebih, Jawa Barat merupakan salah satu daerah dengan aktivitas industri, perdagangan dan jasa yang besar. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi perlu diikuti dengan pemerataan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat serta penguatan ekonomi di wilayah perdesaan.
Bukan sekadar menurunkan angka kemiskinan
Data Maret 2026 pada akhirnya memberikan dua pesan sekaligus.
Pertama, pemerintah patut mencatat keberhasilan karena jumlah penduduk miskin Jawa Barat berkurang lebih dari 114 ribu orang. Kedalaman dan keparahan kemiskinan juga mengalami penurunan.
Namun pesan kedua tidak kalah penting. Masih ada pekerjaan besar untuk memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.
Kenaikan Gini Ratio dan bertambahnya penduduk miskin di perdesaan menunjukkan bahwa kebijakan pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya berorientasi pada bantuan sosial atau penurunan angka kemiskinan.
Pemerataan kesempatan ekonomi, penguatan ekonomi desa, peningkatan kualitas pekerjaan dan pengendalian beban kebutuhan dasar masyarakat juga menjadi bagian penting dari persoalan tersebut.
Dengan demikian, keberhasilan Jawa Barat ke depan bukan hanya diukur dari seberapa rendah angka kemiskinan, tetapi juga dari seberapa kecil kesenjangan kesejahteraan antarkelompok masyarakat.
Sebab, masyarakat bisa saja keluar dari kategori miskin, tetapi belum tentu memiliki kemampuan ekonomi yang setara dengan kelompok masyarakat lainnya.
Di titik inilah angka 6,54 persen kemiskinan menjadi kabar baik yang tetap harus dibaca bersama angka 0,413 Gini Ratio.
Keduanya menunjukkan bahwa Jawa Barat sedang mengalami kemajuan, tetapi pemerataan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

KPAI Desak Audit Total MBG, Kasus Keracunan Anak Dinilai Bukan Sekadar Kelalaian

Mau Kurus tapi Malas Olahraga? Dokter Ungkap Risikonya, Ini 9 Cara yang Bisa Dicoba

Kopi atau Teh Hijau Bisa Gagal Bantu Diet karena 5 Kesalahan Ini

Remaja 17 Tahun Bawa Mobil, Tabrak Motor hingga Balita Tewas

Ketua PW PGM Jabar Konsolidasi ke Cikalong, Dorong Profesionalitas Guru Madrasah
