UMKM Bandung Didorong Keluar dari Pasar Lokal, Masuk ke Ekosistem Digital

19 Sep 2026, 17.01 WIB
WhatsAppSaluran
UMKM Bandung Didorong Keluar dari Pasar Lokal, Masuk ke Ekosistem Digital
Pelaku UMKM mengikuti kegiatan Marema (Maju Sareng Digital Marketing Utama) di Aula Kecamatan Cibeunying Kaler, Kamis (17/9/2026) Kota Bandung. Pemerintah mendorong pelaku usaha mikro memperluas pemasaran melalui ekosistem digital, sekaligus memperkuat legalitas dan kualitas produk.CameraDok. Pemprov Bandung

Gentra.id-BANDUNG — Bagi pelaku usaha mikro, menjual produk dari rumah mungkin menjadi langkah awal. Namun, di tengah perubahan kebiasaan konsumen yang semakin bergeser ke ruang digital, mengandalkan pembeli dari lingkungan sekitar saja dinilai tidak lagi cukup.

Pemerintah Kota Bandung kini mendorong pelaku UMKM memperluas jangkauan pasar melalui pemasaran digital. Produk yang sebelumnya hanya dikenal tetangga atau pelanggan di sekitar tempat usaha diharapkan dapat menjangkau konsumen yang lebih luas melalui kanal daring.

Dorongan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Bandung Erwin saat menghadiri kegiatan Marema (Maju Sareng Digital Marketing Utama) di Aula Kecamatan Cibeunying Kaler, Kamis (17/9/2026). Kegiatan itu sekaligus dirangkaikan dengan pemberian legalitas Nomor Induk Berusaha (NIB) dan halal kepada pelaku usaha mikro.

Erwin melihat perubahan perilaku masyarakat sebagai alasan penting bagi UMKM untuk beradaptasi. Konsumen kini tidak hanya mencari informasi produk melalui lingkungan sekitar, tetapi juga menggunakan kanal digital untuk menemukan, mempertimbangkan hingga membeli sebuah produk.

Menurut Erwin, seperti dilansir dari laman pemprov bandung, digital marketing bukan semata-mata soal mengunggah foto produk ke media sosial atau membuka toko daring. Pemasaran digital harus menjadi ruang untuk memperkenalkan keunggulan produk secara lebih luas.

"Jadi digital marketing pada dasarnya adalah sarana untuk menceritakan keunggulan produk sebenarnya kepada masyarakat. Produk yang baik perlu didukung oleh tampilan menarik, informasi yang jelas, pelayanan yang ramah, serta legalitas usaha yang mudah dikenali," ujar Erwin.

Bukan Sekadar Bisa Jualan Online

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: produk yang masuk ke pasar digital harus mampu memenuhi ekspektasi konsumen.

Erwin menekankan bahwa pemasaran digital harus berjalan beriringan dengan kualitas produk dan cara penyajiannya. Kemasan yang menarik dapat menjadi pintu pertama untuk membuat calon konsumen tertarik, sementara kualitas produk menentukan apakah pembeli akan kembali melakukan transaksi.

Karena itu, pelatihan Marema diharapkan tidak berhenti pada kemampuan teknis mengunggah konten. Pengetahuan yang diperoleh pelaku UMKM harus diterjemahkan menjadi praktik dalam pengembangan usaha.

"Mari kita jadikan teknologi sebagai jalan untuk menumbuhkan usaha, memperluas pasar dan memperkuat kemandirian para pelaku UMKM," kata Erwin.

Ia juga meminta agar program tersebut dilanjutkan dengan praktik, evaluasi dan pendampingan. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial yang selesai ketika acara ditutup.

30 Pendamping untuk Pelaku Usaha Mikro

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung Budhi Rukmana mengatakan Marema merupakan salah satu program Pemkot Bandung untuk membantu pelaku UMKM menghadapi perubahan pola pemasaran.

Menurut Budhi, pola penjualan yang hanya bergantung pada lokasi usaha dan konsumen di sekitar tempat usaha perlu dikembangkan. Ruang digital membuka kemungkinan bagi produk UMKM untuk dikenal oleh pasar yang lebih luas.

Untuk mendukung proses tersebut, Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung memiliki 30 pendamping usaha mikro yang tersebar di 30 kecamatan. Para pendamping membantu pelaku usaha dalam sejumlah aspek, mulai dari pengembangan usaha, pembukuan hingga pemasaran.

Pemerintah Kota Bandung juga memiliki Sarana Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Mikro Kecil (Salapak) yang menjadi salah satu sarana pemasaran bagi produk UMKM yang telah melalui proses kurasi. Jejaring pemasaran digital juga dikembangkan melalui berbagai platform perdagangan daring.

Bagi Budhi, pengembangan UMKM tidak cukup dilakukan melalui satu kegiatan atau satu sektor. Pelatihan, pendampingan, legalitas, pemasaran hingga akses pembiayaan perlu terhubung dalam satu ekosistem.

Pelaku usaha yang mengikuti pelatihan, misalnya, dapat memperoleh sertifikat. Ketika membutuhkan legalitas atau sertifikasi lain seperti halal, HAKI dan PIRT, proses tersebut diharapkan dapat dilanjutkan melalui sistem pendampingan yang tersedia.

Keberhasilan Tidak Cukup Diukur dari Jumlah Peserta

Satu catatan menarik muncul dari pelaksanaan program Marema: ukuran keberhasilan tidak semestinya berhenti pada berapa banyak pelaku usaha yang hadir dalam pelatihan.

Budhi meminta adanya data yang dapat memperlihatkan perubahan usaha peserta sebelum dan setelah mengikuti program. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dapat melihat apakah pelatihan benar-benar menghasilkan perubahan dalam pemasaran maupun perkembangan usaha.

"Saya ingin data dari Marema ini punya data yang pasti, dari sejak yang pertama sampai sekarang berapa jumlah yang sudah dilatih dan apa perbedaan atau perubahannya, before after-nya. Supaya kita bisa melihat, mengukur keberhasilan program ini," ujarnya.

Permintaan tersebut menjadi penting karena pelatihan digital pada akhirnya bukan hanya tentang kemampuan membuat konten. Tujuan yang lebih jauh adalah bagaimana konten tersebut membawa calon pembeli menuju transaksi dan kemudian menciptakan pelanggan yang kembali membeli.

Konten Menjadi Etalase Baru UMKM

Asisten Manager Mega Vision Kota Bandung Kiki Rizkiana mengatakan, pelatihan Marema diarahkan agar pelaku UMKM memahami cara memanfaatkan kanal digital secara praktis.

Salah satu materi yang ditekankan adalah bagaimana membuat konten produk yang menarik. Di ruang digital, foto, video, keterangan produk dan cara penyajian menjadi semacam etalase baru yang menentukan apakah calon konsumen akan berhenti melihat atau melanjutkan ke toko online.

Tim Mega Vision juga memberikan pendampingan setelah pelatihan. Para peserta akan tergabung dalam grup WhatsApp sehingga dapat berkonsultasi ketika menemui kesulitan dalam menerapkan materi yang sudah diberikan.

Bagi UMKM yang selama ini tumbuh dari pelanggan sekitar rumah, perubahan ini berarti membuka pintu menuju pasar yang berbeda. Namun, pintu digital saja tidak cukup. Di belakangnya tetap diperlukan produk yang berkualitas, kemasan yang layak, informasi yang jelas, pelayanan yang baik dan legalitas usaha.

Program Marema di Cibeunying Kaler pun menjadi bagian dari upaya tersebut. Pelatihan pemasaran digital berjalan bersamaan dengan pemberian NIB dan legalitas halal kepada pelaku usaha mikro.

Dengan demikian, perjalanan UMKM menuju pasar digital tidak hanya berbicara tentang bagaimana produk ditemukan konsumen, tetapi juga bagaimana usaha tersebut dibangun agar lebih siap dipercaya dan berkembang ketika pembelinya datang dari luar lingkungan sekitar.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.