
Gentra.id-PANGANDARAN — Di tengah geliat ekonomi Desa Batu Karas yang bertumpu pada potensi lokal dan aktivitas usaha masyarakat, pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menghadapi tantangan yang tidak lagi sebatas bagaimana menjalankan usaha. Ada persoalan tata kelola, pencatatan keuangan, hingga bagaimana memperkenalkan produk dan potensi desa kepada masyarakat yang lebih luas.
Ruang itulah yang kemudian disentuh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Siliwangi (Unsil) melalui Program Pengabdian Berbasis Masyarakat (PPBM), Bersama BUMDes Desa Batu Karas, 7 Agustus 2026, dimana tim menghadirkan program “Transformasi BUMDes melalui Strategi Terintegrasi: Good Corporate Governance (GCG), Sistem Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK), dan Social Media Promotion.”
Program tersebut dirancang untuk memperkuat BUMDes dari tiga sisi yang saling berkaitan: tata kelola organisasi, administrasi keuangan, serta komunikasi dan promosi melalui media sosial.
Ketua Tim Pengabdian Unsil, Ari Farizal Rasyid, S.Ud., M.Ag., dalam keterangan tertulisnya mengatakan, penguatan BUMDes tidak cukup hanya dengan mendorong pengembangan unit usaha. Menurutnya, fondasi pengelolaan juga perlu dibenahi agar potensi ekonomi desa dapat dikelola secara lebih profesional.
“BUMDes memiliki potensi besar dalam mendukung perekonomian desa. Karena itu, penguatan tidak hanya dilakukan pada aktivitas usahanya, tetapi juga pada tata kelola, pencatatan keuangan, dan pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas jangkauan informasi dan promosi,” ujar Ari.
Membenahi Tata Kelola dari Dalam
Salah satu materi utama yang diberikan adalah Good Corporate Governance (GCG). Bagi pengelola BUMDes, tata kelola bukan sekadar urusan administrasi, melainkan fondasi agar organisasi memiliki arah kerja yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tim pengabdian memberikan penguatan mengenai prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran.
Kelima prinsip tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem kerja BUMDes yang lebih terstruktur. Transparansi diperlukan agar informasi pengelolaan dapat diketahui secara jelas, sementara akuntabilitas menempatkan setiap proses dan keputusan dalam kerangka pertanggungjawaban.
Dengan tata kelola yang lebih baik, pengelolaan BUMDes diharapkan tidak bergantung pada pola kerja individual, tetapi memiliki sistem yang dapat dijalankan secara konsisten.
Ketika Keuangan Mulai Masuk Sistem Digital
Persoalan berikutnya adalah pencatatan keuangan. Dalam pengelolaan usaha, transaksi yang terjadi setiap hari membutuhkan pencatatan yang rapi agar kondisi usaha dapat diketahui dengan lebih jelas.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian Unsil memperkenalkan Sistem Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK).
Aplikasi ini diarahkan untuk membantu pengelola BUMDes mencatat transaksi secara lebih sistematis sekaligus menghasilkan informasi keuangan yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengambilan keputusan.
Digitalisasi pencatatan keuangan dengan demikian bukan semata-mata memindahkan catatan dari kertas ke perangkat digital. Lebih jauh, sistem tersebut diharapkan dapat membantu pengelola memahami kondisi usaha berdasarkan data keuangan yang tercatat.
Dari sana, pengelola memiliki dasar yang lebih terukur ketika mengevaluasi kegiatan usaha maupun menentukan langkah berikutnya.
Media Sosial Menjadi Etalase Desa
Transformasi kemudian bergerak ke sisi lain: bagaimana BUMDes memperkenalkan produk dan potensinya kepada publik.
Tim pengabdian memberikan penguatan mengenai Social Media Promotion, dengan menempatkan media sosial sebagai ruang komunikasi sekaligus sarana promosi.
Bagi Desa Batu Karas, ruang digital memiliki peluang untuk memperkenalkan produk dan layanan BUMDes, sekaligus mengangkat berbagai potensi lokal kepada masyarakat dan calon konsumen.
Media sosial tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat berbagi informasi. Jika dikelola secara konsisten, platform digital dapat menjadi etalase yang mempertemukan potensi desa dengan khalayak yang lebih luas.
Di titik inilah tiga pendekatan yang dibawa Unsil saling berhubungan. Tata kelola menjadi fondasi organisasi, pencatatan keuangan menyediakan data untuk membaca kondisi usaha, sedangkan media sosial membuka ruang komunikasi dan pemasaran.
Pengabdian yang Tidak Berhenti di Ruang Pelatihan
Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan pendampingan. Pengelola BUMDes tidak hanya menerima materi, tetapi juga memiliki ruang untuk berdiskusi mengenai kondisi, tantangan, serta kebutuhan yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha.
Pendekatan semacam ini penting karena setiap BUMDes memiliki karakter dan persoalan yang berbeda. Materi mengenai tata kelola, keuangan digital, maupun promosi perlu disesuaikan dengan kondisi nyata yang dihadapi pengelola di lapangan.
Melalui pendampingan, materi yang diberikan diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan dalam kegiatan pengabdian, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas pengelolaan BUMDes sehari-hari.
Tim Pengabdian Unsil terdiri atas Ari Farizal Rasyid, S.Ud., M.Ag. sebagai ketua, bersama Muhammad Dzulfaqori Jatnika, M.SEI., Mochamad Fajar Deliaz, M.Farm., Dian Friantoro, M.A., Tuti Adi Tama, S.E., M.Si., Niningtyas Rahayuningsih, S.Pd., M.E., dan Agi Ahmad Ginanjar, M.Pd. sebagai anggota.
Komposisi tersebut memperlihatkan pendekatan lintas bidang dalam kegiatan pengabdian. Kompetensi akademik para dosen diarahkan untuk menjawab kebutuhan praktis masyarakat, khususnya dalam penguatan kelembagaan dan pengembangan ekonomi desa.
Bagi BUMDes Desa Batu Karas, program tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses penguatan yang berkelanjutan, mulai dari pembenahan tata kelola, administrasi keuangan hingga strategi komunikasi digital.
Sementara bagi Universitas Siliwangi, pengabdian semacam ini menjadi jembatan antara pengetahuan yang berkembang di ruang akademik dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa.
Sebab, transformasi BUMDes pada akhirnya bukan hanya tentang menjadi lebih digital. Ia juga tentang membangun cara kerja yang lebih tertata, mengambil keputusan berdasarkan informasi, dan membuat potensi desa memiliki ruang untuk dikenal lebih luas.
Di Batu Karas, tiga hal itu coba dipertemukan: tata kelola yang lebih kuat, keuangan yang lebih terukur, dan cerita tentang potensi desa yang mulai dibawa ke ruang digital.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Unsil Dorong BUMDes Batu Karas Bertransformasi Lewat Tata Kelola dan Digitalisasi

Unsil Dorong UMKM Cipakat Naik Kelas Lewat Strategi Digital

23 Perusahaan Terindikasi Cemari Sungai Cileungsi, Ini Langkah Pemkab Bogor

12.261 Personel Disiagakan, Pilkades Serentak Bekasi Dikawal Ketat

Viral Dugaan Begal di Cilopang Garut Ternyata Rekayasa
