Unsil Dorong UMKM Cipakat Naik Kelas Lewat Strategi Digital

20 Sep 2026, 11.22 WIB
WhatsAppSaluran
Unsil Dorong UMKM Cipakat Naik Kelas Lewat Strategi Digital
Ujang Darusman, Konsultan Pendamping PLUT KUMKM Diskopumindag Kabupaten Tasikmalaya, menyampaikan materi dan motivasi kewirausahaan kepada pelaku UMKM Desa Cipakat dalam workshop bertema “Visionary Impact and Smart Tech Acceleration”, Sabtu (19/9/2026).CameraGentra.id/Nanang AH

Gentra.id-TASIKMALAYA — Bagi pelaku usaha kecil, memiliki produk belum tentu cukup untuk membuat sebuah bisnis bertahan. Di balik kemasan, proses produksi dan aktivitas jual-beli, ada hal yang sering kali lebih menentukan: keberanian mengubah cara berpikir dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Gagasan itulah yang mengemuka dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Himpunan Mahasiswa Fakultas Tekhnik Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya, di Aula Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (19/9/2026).

Mengusung tema “Visionary Impact and Smart Tech Acceleration”, kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa Unsil dengan pelaku UMKM Desa Cipakat melalui seminar dan workshop literasi digital. Materi tidak hanya membahas bagaimana teknologi dan media sosial dimanfaatkan untuk promosi, tetapi juga menyentuh fondasi yang menentukan keberlangsungan sebuah usaha: pola pikir kewirausahaan.

Salah satu pemateri dalam workshop tersebut adalah Ujang Darusman, Konsultan Pendamping PLUT KUMKM dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopumindag) Kabupaten Tasikmalaya.

Di hadapan pelaku UMKM, Ujang menekankan bahwa menjadi wirausahawan membutuhkan keberanian untuk mengubah mindset. Pelaku usaha tidak cukup hanya memiliki produk, tetapi juga harus berani berinovasi dan terus belajar menghadapi perubahan.

“Seorang wirausahawan itu harus berani mengubah mindset atau pola pikir. Mental keberanian dan inovasi harus dibangun dalam menjalankan usaha. Ini bukan sesuatu yang bisa terjadi secara instan, tetapi membutuhkan proses dan harus terus dilatih secara kontinyu,” ujar Ujang.

Menurutnya, perubahan pola pikir tersebut menjadi penting karena dunia usaha tidak berjalan dalam ruang yang tetap. Selera konsumen berubah, persaingan berkembang, sementara teknologi membuat cara orang menemukan dan membeli produk juga ikut bergeser.

Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi digital seharusnya berjalan beriringan dengan kemampuan memahami usaha itu sendiri.

Ujang kemudian mengajak peserta melihat persoalan UMKM dari sisi yang lebih mendasar. Ia menjelaskan, kegagalan sebuah usaha tidak selalu berkaitan dengan besar-kecilnya modal yang dimiliki.

“Banyak yang mengira kegagalan UMKM itu karena tidak punya modal. Padahal, persoalannya tidak selalu di modal. Ada beberapa faktor yang menyebabkan usaha tidak bertahan, seperti salah memilih produk, tidak mengenal pasar, belum memahami pelanggan, tidak mampu melakukan promosi, dan yang paling penting tidak konsisten,” katanya.

Pesan tersebut membuat pembahasan workshop tidak berhenti pada bagaimana sebuah produk diunggah ke media sosial. Sebelum berbicara tentang promosi, pelaku UMKM perlu mengetahui terlebih dahulu produk apa yang dibutuhkan, siapa calon pembelinya, bagaimana karakter pelanggan, serta cara menjangkau mereka.

Dengan kata lain, teknologi hanyalah alat. Ia akan sulit memberikan dampak apabila pelaku usaha belum mengetahui ke mana produk hendak dibawa.

“Karena itu, sebelum memulai atau mengembangkan usaha, pelaku UMKM harus mengenali produknya, siapa pasarnya, siapa pelanggannya, bagaimana cara memasarkannya, dan kemudian konsisten menjalankannya. Semua itu membutuhkan proses belajar dan latihan yang terus-menerus,” lanjut Ujang.

Dari Mindset ke Pasar Digital

Pesan tentang perubahan pola pikir tersebut kemudian menemukan kaitannya dengan materi literasi digital yang diberikan dalam kegiatan PkM Fakultas Tekhnik Unsil.

Panitia Pelaksana dari Departemen Sosial Masyarakat (SOSMAS) Fakultas Tekhnik Unsil, Fatir Y, mengatakan kegiatan tersebut dibagi dalam dua bagian, yakni pematerian dan workshop. Materinya berkaitan dengan literasi digital serta pemanfaatan platform media sosial untuk mendukung promosi usaha.

Menurut Fatir, media sosial tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat berbagi aktivitas sehari-hari. Platform tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang promosi sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Gagasan itu menjadi relevan bagi UMKM Cipakat. Produk yang sebelumnya dikenal di lingkungan sekitar dapat diperkenalkan melalui ruang digital kepada calon konsumen yang berada di luar desa.

Bahkan, pengembangan pemasaran tidak hanya diarahkan melalui media sosial. Ada gagasan agar produk UMKM Cipakat nantinya dapat dipasarkan melalui website desa maupun kecamatan, sehingga produk lokal memiliki ruang digital yang lebih terstruktur untuk diperkenalkan kepada masyarakat.

Di sinilah teknologi bertemu dengan persoalan klasik UMKM: produk, pasar, pelanggan dan konsistensi.

Sebuah produk bisa saja memiliki kualitas yang baik, tetapi tanpa promosi yang tepat calon pembeli tidak pernah mengetahuinya. Sebaliknya, promosi yang ramai juga belum tentu menghasilkan penjualan apabila produk yang ditawarkan tidak sesuai kebutuhan pasar.

Karena itu, workshop tersebut tidak hanya berbicara tentang cara menggunakan teknologi, tetapi juga mendorong pelaku UMKM melihat usahanya secara lebih utuh.

Desa Menjadi Ruang Tumbuh UMKM

Kepala Desa Cipakat, Dadan Ridwan, melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat UMKM lokal.

Ia mengapresiasi pihak Kecamatan Singaparna dan mahasiswa Unsil yang telah memfasilitasi kegiatan workshop. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan program Pemerintah Desa Cipakat dalam mengembangkan dan memperkuat UMKM masyarakat.

“Seiring dengan program desa untuk pengembangan UMKM, kegiatan ini secara nyata bisa diimplementasikan di Desa Cipakat. Ini menjadi keberkahan bagi desa, karena pemahaman dan penguatan terhadap para pelaku UMKM semakin bertambah,” kata Dadan.

Kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM tersebut pada akhirnya tidak berhenti pada persoalan bagaimana berjualan hari ini. Ada tantangan yang lebih panjang: bagaimana membuat usaha mampu bertahan, beradaptasi dan menemukan pasar baru.

Di tengah perubahan perilaku konsumen dan semakin kuatnya peran teknologi, pelaku UMKM dituntut tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pembaca pasar, komunikator dan pengelola usaha.

Dari aula Desa Cipakat, pesan itu disampaikan dengan sederhana. Naik kelas tidak selalu dimulai dari modal yang lebih besar. Ia bisa dimulai dari keberanian mengubah cara berpikir, mengenali pelanggan, berinovasi, memanfaatkan teknologi, lalu konsisten menjalankannya.

Sebab pada akhirnya, teknologi hanya membuka pintu. Yang menentukan apakah sebuah usaha mampu melangkah melewatinya adalah kesiapan pelaku UMKM untuk terus belajar dan beradaptasi.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.