
Gentra.id-Menjadi bagian dari Gen Z identik dengan kehidupan yang dekat dengan teknologi. Bangun tidur mengecek ponsel, bekerja atau kuliah di depan layar, menikmati makanan praktis, hingga menghabiskan malam dengan scrolling media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda.
Masalahnya, sejumlah kebiasaan tersebut sering dianggap sepele karena dampaknya tidak selalu terasa dalam waktu singkat.
Padahal, pola hidup yang terus dilakukan setiap hari dapat memengaruhi kualitas tidur, kesehatan mental, berat badan, kebugaran, hingga meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik merupakan sejumlah faktor penting yang berkaitan dengan penyakit tidak menular. Aktivitas fisik secara rutin, misalnya, membantu mencegah penyakit kardiovaskular, diabetes, dan sejumlah masalah kesehatan laivnnya.
Lantas, kebiasaan apa saja yang perlu mulai diperhatikan Gen Z?
1. Begadang dan Mengorbankan Waktu Tidur
“Dikit lagi” sering menjadi alasan seseorang terus menatap layar hingga tengah malam. Entah menyelesaikan pekerjaan, bermain gim, menonton serial, atau sekadar scrolling media sosial.
Masalahnya bukan hanya soal rasa mengantuk pada pagi hari.
Kurang tidur dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, kemampuan mengambil keputusan, serta performa seseorang pada siang hari.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan orang dewasa mendapatkan setidaknya tujuh jam tidur setiap hari.
Penelitian yang dirangkum dalam sebuah systematic review juga menemukan bahwa kurang tidur pada dewasa muda berkaitan dengan gangguan fungsi neurobehavioral, termasuk kewaspadaan, fungsi kognitif, rasa kantuk pada siang hari, dan perubahan suasana hati.
Karena itu, kebiasaan begadang sebaiknya tidak dianggap sebagai bagian normal dari gaya hidup anak muda.
2. Doomscrolling Sebelum Tidur
Doomscrolling merupakan kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif atau mengkhawatirkan melalui media digital.
Awalnya mungkin hanya ingin mengetahui berita terbaru. Namun, satu unggahan berlanjut ke unggahan berikutnya hingga tanpa sadar waktu sudah berlalu berjam-jam.
Penelitian mengenai doomscrolling menemukan adanya hubungan dengan penggunaan media sosial yang bermasalah, fear of missing out (FOMO), tekanan psikologis, serta beberapa indikator kesejahteraan psikologis.
Penggunaan media sosial yang bermasalah juga menjadi perhatian karena sejumlah kajian menemukan kaitannya dengan kualitas tidur yang lebih buruk pada remaja dan dewasa muda.
Jadi, masalahnya bukan sekadar berapa lama seseorang memegang ponsel. Konten yang dikonsumsi dan apakah penggunaan tersebut sudah mengganggu tidur serta aktivitas sehari-hari juga perlu diperhatikan.
3. Terlalu Lama Duduk dan Minim Bergerak
Kuliah, bekerja dengan laptop, bermain gim, menonton film, hingga scrolling media sosial membuat banyak aktivitas Gen Z dilakukan sambil duduk.
Jika tidak diimbangi aktivitas fisik, kebiasaan ini dapat membuat tubuh terlalu lama berada dalam kondisi sedentari.
WHO menyebut sekitar 31 persen orang dewasa dan 80 persen remaja di dunia belum memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan.
Padahal, aktivitas fisik rutin berperan dalam menjaga kesehatan fisik dan mental serta membantu mencegah penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker.
Tidak selalu harus olahraga berat.
Membiasakan berjalan kaki, menggunakan tangga, melakukan peregangan, atau menyempatkan diri bergerak setelah duduk lama bisa menjadi langkah sederhana untuk mengurangi gaya hidup sedentari.
4. Terlalu Sering Mengandalkan Makanan Instan dan Ultra-Proses
Makanan cepat saji, mi instan, camilan kemasan, makanan beku, minuman manis, dan berbagai produk siap santap memang praktis.
Namun, jika menjadi menu utama hampir setiap hari, pola tersebut perlu dievaluasi.
WHO menjelaskan bahwa pola makan sehat membantu melindungi tubuh dari berbagai penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker. Sebaliknya, makanan yang tinggi gula bebas, sodium, serta lemak tidak sehat perlu dibatasi.
Khusus di Indonesia, WHO pada 2026 juga menyoroti meningkatnya konsumsi makanan sangat diproses yang tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat. Produk seperti minuman berpemanis, makanan ringan asin, dan mi instan disebut semakin populer karena murah, mudah ditemukan, serta gencar dipasarkan.
Artinya, persoalannya bukan satu kali makan mi instan atau membeli minuman manis.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika makanan tersebut menjadi pola makan sehari-hari dan menggantikan konsumsi makanan yang lebih beragam seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sumber protein.
5. Menganggap Minuman Manis sebagai Pengganti Air Putih
Kopi susu kekinian, teh manis, minuman bersoda, minuman energi, hingga berbagai minuman dengan tambahan sirup memang mudah ditemukan.
Masalah muncul ketika minuman berpemanis dikonsumsi terlalu sering tanpa menyadari jumlah gula yang masuk ke tubuh.
WHO merekomendasikan konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian. Pengurangan hingga di bawah 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Karena itu, air putih tetap sebaiknya menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari.
Bukan berarti Gen Z harus sepenuhnya menghindari minuman favorit. Namun, frekuensi dan porsinya perlu diperhatikan.
6. Merokok atau Menganggap Vape Lebih Aman
Sebagian anak muda mungkin menganggap vape sebagai alternatif yang lebih aman daripada rokok konvensional.
Namun, WHO menegaskan bahwa produk tembakau berbahaya dan tidak ada tingkat paparan yang benar-benar aman. Penggunaan tembakau merupakan faktor risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Untuk rokok elektronik, WHO juga menyatakan bahwa aerosolnya dapat mengandung nikotin serta zat dan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Produk tersebut juga dipasarkan secara agresif kepada anak muda melalui media sosial dan influencer.
WHO Indonesia pada Mei 2026 bahkan kembali memperingatkan bahwa pemasaran agresif melalui media sosial dan influencer ikut menormalisasi penggunaan vape di kalangan anak-anak dan remaja.
Karena itu, anggapan bahwa vape otomatis aman hanya karena tidak menghasilkan asap rokok konvensional perlu diluruskan.
7. Mengabaikan Stres karena Dianggap “Cuma Overthinking”
Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tubuh. Kondisi psikologis juga memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan seseorang.
Tekanan pekerjaan, tuntutan akademik, masalah finansial, hubungan sosial, hingga paparan media sosial dapat membuat seseorang mengalami stres.
Masalahnya, stres sering dianggap sebagai sesuatu yang harus ditanggung sendiri.
Padahal, ketika tekanan psikologis mulai mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, pola makan, atau aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut tidak seharusnya diabaikan.
Penelitian mengenai doomscrolling, misalnya, menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan tersebut dengan psychological distress dan sejumlah indikator kesejahteraan.
Karena itu, menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu merasa bahagia. Mengenali batas kemampuan diri, beristirahat, membatasi paparan informasi yang membuat stres, serta mencari bantuan profesional ketika diperlukan merupakan bagian dari menjaga kesehatan.
Tidak Harus Mengubah Semuanya Sekaligus
Tujuh kebiasaan tersebut sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Persoalannya bukan apakah seseorang pernah begadang, makan mi instan, bermain media sosial, atau menghabiskan waktu duduk di depan laptop.
Yang lebih penting adalah seberapa sering kebiasaan tersebut dilakukan dan apakah sudah menjadi pola hidup.
Perubahan kecil bisa menjadi langkah awal. Misalnya, menetapkan waktu berhenti menggunakan ponsel sebelum tidur, memperbanyak aktivitas fisik, mengganti sebagian minuman manis dengan air putih, memperbanyak makanan segar, serta mulai mengurangi rokok atau vape.
WHO menempatkan pola makan sehat, aktivitas fisik, dan bebas dari tembakau sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Pada akhirnya, menjadi Gen Z bukan berarti harus meninggalkan teknologi atau mengikuti gaya hidup tertentu
Justru tantangannya adalah bagaimana tetap bisa menikmati kehidupan digital tanpa membiarkan kebiasaan tersebut perlahan mengambil alih waktu tidur, aktivitas fisik, pola makan, dan kesehatan mental
Sebab, tubuh mungkin tidak langsung memberikan “tagihan” hari ini. Tetapi kebiasaan yang dilakukan setiap hari bisa menentukan kondisi kesehatan beberapa tahun ke depan.
Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Dinsos dan TAGANA Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Asrama Ponpes Nurul Huda Padakembang Tasikmalaya

Jenazah Perempuan Ditemukan di Sumur Sedalam 13 Meter di Tanjungjaya, Evakuasi Sempat Terkendala Ular Berbisa

Pernyataan Panglima TNI soal Kamtibmas Picu Polemik, Ini Kritik Koalisi Masyarakat Sipil

Pemkab Garut Perketat Pengawasan Obat Terlarang dan Jam Malam Anak

Dari Begadang sampai Doomscrolling, 7 Kebiasaan Gen Z Bisa Berdampak ke Kesehatan
