Frugal Living di Tengah Harga Naik: Gaya Hidup atau Keterpaksaan?

13 Sep 2026, 11.13 WIB
WhatsAppSaluran
Frugal Living di Tengah Harga Naik: Gaya Hidup atau Keterpaksaan?
Frugal living tidak sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi mengajarkan seseorang menentukan prioritas dan menggunakan uang secara sadar sesuai kebutuhan, kemampuan, serta tujuan hidup.CameraPexels/cottonbro studio

Gentra.id-Ada masa ketika hidup hemat identik dengan kebiasaan sederhana: membawa bekal dari rumah, menabung sebagian penghasilan, menggunakan barang sampai benar-benar rusak, dan berpikir beberapa kali sebelum membeli sesuatu.

Kini kebiasaan semacam itu mendapatkan nama baru yang lebih populer di media sosial, yakni frugal living. Istilah tersebut banyak digunakan generasi muda untuk menggambarkan cara mengelola kehidupan dengan lebih sadar terhadap pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menghindari konsumsi yang dianggap tidak memberikan manfaat berarti.

Namun, di tengah biaya hidup yang terus menjadi perhatian masyarakat, muncul pertanyaan yang lebih menarik: apakah frugal living benar-benar merupakan pilihan gaya hidup, atau justru cara baru untuk bertahan ketika kemampuan ekonomi semakin terbatas?

Frugal Living Bukan Sekadar Hidup Hemat

Secara sederhana, frugal living memang dapat dipahami sebagai gaya hidup hemat. Akan tetapi, maknanya lebih luas daripada sekadar mengurangi pengeluaran sebanyak-banyaknya.

Orang yang menjalani frugal living biasanya berusaha menggunakan sumber daya yang dimiliki secara efisien, membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan dan nilai manfaatnya, serta menghindari kebiasaan konsumtif yang tidak diperlukan.

Karena itu, seseorang tetap dapat membeli barang yang mahal dan tetap menjalani prinsip frugal living selama pembelian tersebut dilakukan secara sadar, sesuai kemampuan, dan memang memiliki nilai guna yang dianggap penting.

Penelitian berjudul “Frugal Living is A New Alternative Gen Z Lifestyle” yang diterbitkan dalam Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi pada 2025 secara khusus melihat frugal living sebagai salah satu alternatif gaya hidup Generasi Z. Kajian tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku konsumsi generasi muda membuat konsep hidup hemat semakin relevan, terutama ketika anak muda mulai mempertimbangkan kembali hubungan antara konsumsi, kondisi finansial dan kualitas hidup.

Dengan demikian, frugal living tidak selalu berarti hidup kekurangan, tetapi dapat menjadi strategi untuk menentukan prioritas dalam menggunakan sumber daya yang terbatas.

Ketika Hemat Menjadi Strategi Bertahan

Persoalannya menjadi berbeda ketika seseorang harus berhemat bukan karena memilih hidup sederhana, melainkan karena penghasilannya tidak cukup leluasa untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan.

Pengeluaran rumah tangga terdiri dari banyak hal yang datang bersamaan, mulai dari makanan, transportasi, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, komunikasi hingga kebutuhan keluarga. Pengeluaran yang terlihat kecil jika berdiri sendiri dapat menjadi jumlah yang cukup besar ketika dikumpulkan dalam satu bulan.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk tidak membeli sesuatu bukan selalu lahir dari filosofi hidup minimalis, melainkan dari kalkulasi sederhana agar uang yang tersedia dapat bertahan sampai akhir bulan.

Di sinilah istilah frugal living perlu dibaca secara lebih hati-hati. Bagi seseorang dengan penghasilan cukup, hidup hemat dapat menjadi pilihan sadar untuk memperbesar tabungan, mengurangi utang atau mempersiapkan masa depan.

Namun bagi kelompok dengan pendapatan terbatas, berhemat mungkin merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Dua orang bisa sama-sama membawa bekal, menggunakan transportasi umum dan menunda membeli barang baru, tetapi alasan di balik tindakan tersebut bisa sangat berbeda.

Yang satu sedang memilih gaya hidup, sementara yang lain sedang berusaha memastikan kebutuhan bulan berikutnya tetap terpenuhi.

Bukan Pelit, Melainkan Menentukan Prioritas

Frugal living juga sering disalahartikan sebagai perilaku pelit. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Orang yang pelit cenderung melihat pengeluaran sebagai sesuatu yang harus dihindari, sementara seseorang yang menerapkan prinsip frugal living lebih mempertimbangkan apakah sebuah pengeluaran sesuai dengan prioritas dan memberikan manfaat yang sepadan. Membeli sepatu baru karena sepatu lama sudah rusak tentu berbeda dengan membeli sepatu karena model tersebut sedang menjadi tren.

Demikian pula makan di restoran sesekali tidak otomatis bertentangan dengan hidup hemat apabila pengeluaran tersebut sudah direncanakan dan tidak mengganggu kebutuhan utama.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan voluntary simplicity, sebuah konsep yang memiliki kedekatan dengan frugal living karena sama-sama menekankan pengurangan konsumsi yang tidak diperlukan.

Penelitian Ana Maria Soares yang diterbitkan dalam International Journal of Consumer Studies pada 2025 menggunakan analisis terhadap lebih dari 21 ribu komentar dalam komunitas daring dan menemukan bahwa praktik hidup sederhana berkaitan dengan upaya mengurangi konsumsi serta mencari pemenuhan hidup yang tidak hanya bergantung pada kepemilikan material.

Ketika Konsumsi Tidak Lagi Menjadi Ukuran Bahagia

Selama bertahun-tahun, masyarakat terbiasa menghubungkan konsumsi dengan keberhasilan. Barang baru dapat menjadi simbol pencapaian, perjalanan wisata menjadi tanda kemampuan finansial, sementara restoran atau kafe tertentu menjadi bagian dari identitas sosial.

Media sosial membuat hubungan tersebut semakin kuat karena seseorang tidak hanya mengonsumsi barang dan jasa, tetapi juga dapat memperlihatkan konsumsinya kepada orang lain.

Akibatnya, keinginan membeli terkadang bukan lagi muncul karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk mengikuti lingkungan dan mempertahankan citra tertentu.

Frugal living menawarkan arah yang berbeda dengan mempertanyakan kembali hubungan antara konsumsi dan kebahagiaan. Penelitian Leah Watkins, Robert Aitken dan Loic Pengtao Li yang diterbitkan dalam Journal of Macromarketing pada 2025 menemukan adanya hubungan positif antara voluntary simplicity dengan kesejahteraan, baik dalam aspek kesenangan maupun pemenuhan hidup yang lebih bermakna.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian manfaat dari hidup sederhana berkaitan dengan pemenuhan psikologis melalui hubungan sosial dan keterlibatan dalam komunitas, sehingga kesejahteraan seseorang tidak selalu harus dibangun melalui peningkatan konsumsi material.

Temuan tersebut tidak berarti bahwa membeli barang atau menikmati konsumsi adalah sesuatu yang buruk. Masalahnya muncul ketika konsumsi menjadi satu-satunya cara untuk memperoleh kepuasan atau ketika seseorang terus meningkatkan pengeluaran demi mengejar standar kehidupan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuan.

Dalam konteks itu, frugal living dapat memberikan ruang untuk menentukan kembali apa yang benar-benar penting. Uang yang tidak dihabiskan untuk pembelian impulsif, misalnya, dapat dialihkan untuk dana darurat, pendidikan, kebutuhan keluarga atau tujuan jangka panjang yang lebih bermakna.

Hemat Bisa Memberi Rasa Aman

Salah satu manfaat penting dari frugal living sebenarnya bukan sekadar berapa rupiah yang berhasil dihemat setiap hari, melainkan seberapa besar kendali seseorang terhadap kondisi keuangannya.

Seseorang yang membiasakan diri mengeluarkan uang di bawah kemampuan finansialnya memiliki peluang lebih besar untuk menyediakan cadangan ketika menghadapi kebutuhan mendadak.

Ketika kendaraan rusak, pekerjaan terganggu atau keluarga membutuhkan biaya tambahan, keberadaan dana cadangan dapat memberikan ruang bernapas yang tidak dimiliki seseorang yang setiap bulan menghabiskan hampir seluruh penghasilannya.

Meski demikian, hubungan antara hidup hemat dan kesejahteraan tidak selalu sederhana. Tinjauan penelitian mengenai reduced consumption, voluntary simplicity, minimalisme dan frugality yang diterbitkan dalam Sustainable Production and Consumption pada 2024 menemukan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan hubungan positif antara pengurangan konsumsi dan kesejahteraan.

Namun, hasil penelitian tidak selalu seragam karena dampaknya dipengaruhi kondisi ekonomi, karakter individu dan cara pengurangan konsumsi dilakukan. Penghematan yang dilakukan secara sadar dapat memberikan manfaat, tetapi pengurangan konsumsi yang sampai mengorbankan kebutuhan dasar tentu merupakan persoalan berbeda.

Tidak Semua Orang Bisa Memilih Hidup Hemat

Pembahasan mengenai frugal living menjadi kurang lengkap jika hanya melihatnya sebagai keputusan personal. Kemampuan seseorang untuk menjalani gaya hidup hemat juga dipengaruhi oleh tingkat pendapatan dan kondisi sosial-ekonominya.

Orang dengan penghasilan tinggi dapat memilih tinggal di rumah sederhana, memasak sendiri dan menggunakan barang lama karena memang menginginkannya.

Sementara itu, keluarga dengan penghasilan pas-pasan mungkin sudah melakukan semua hal tersebut, tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan karena ruang finansialnya memang sangat terbatas.

Perbedaan tersebut penting agar frugal living tidak berubah menjadi alat untuk menghakimi orang lain. Tidak semua persoalan keuangan dapat diselesaikan dengan berhenti membeli kopi, mengurangi makan di luar atau membawa bekal.

Jika pendapatan seseorang memang tidak mencukupi kebutuhan dasar, persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan konsumsi. Ada persoalan upah, biaya tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, transportasi dan tanggungan keluarga yang ikut menentukan kemampuan seseorang dalam mengelola keuangan.

Karena itu, frugal living sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu strategi pengelolaan kehidupan, bukan sebagai resep universal. Apa yang berhasil bagi seorang pekerja lajang belum tentu dapat diterapkan oleh keluarga dengan anak atau seseorang yang memiliki tanggungan terhadap orang tua.

Hidup hemat seharusnya membantu seseorang mengatur sumber daya yang dimiliki, bukan membuatnya merasa bersalah karena tidak mampu mengikuti standar hidup hemat yang ditampilkan orang lain.

Ketika Frugal Living Menjadi Tren Media Sosial

Media sosial membawa sisi lain dari popularitas frugal living. Kebiasaan membawa bekal, mencatat pengeluaran, menggunakan barang sampai habis, memasak sendiri dan menjalani no-spend challenge dapat menjadi inspirasi yang baik bagi orang lain.

Pengetahuan mengenai pengelolaan uang juga menjadi lebih mudah ditemukan karena pengalaman pribadi banyak orang dapat dibagikan secara terbuka.

Namun, gaya hidup hemat juga dapat berubah menjadi estetika baru ketika keberhasilan berhemat mulai diukur berdasarkan seberapa sedikit seseorang mampu mengeluarkan uang.

Padahal, tujuan utama pengelolaan keuangan bukanlah membuat pengeluaran menjadi sekecil mungkin. Tujuannya adalah memastikan uang digunakan sesuai kebutuhan dan tujuan hidup.

Seseorang tidak perlu merasa gagal menjalani frugal living hanya karena sesekali membeli makanan kesukaan, pergi berlibur atau membeli barang yang memang sudah lama diinginkan. Selama pengeluaran tersebut direncanakan dan tidak mengorbankan kebutuhan utama, hidup hemat masih dapat berjalan berdampingan dengan menikmati kehidupan.

Pada Akhirnya, Apa Arti Frugal Living?

Pada akhirnya, frugal living mungkin lebih tepat dipahami bukan sebagai perlombaan untuk menjadi orang yang paling hemat, melainkan sebagai upaya mengambil kembali kendali atas hubungan seseorang dengan uang dan konsumsi.

Ia mengajarkan bahwa tidak semua barang yang mampu dibeli harus dimiliki dan tidak semua tren harus diikuti. Seseorang dapat memilih menggunakan ponsel lama karena perangkat tersebut masih berfungsi, memasak di rumah karena lebih sesuai dengan tujuan keuangannya, atau menolak membeli sesuatu karena menyadari bahwa barang tersebut tidak benar-benar dibutuhkan.

Namun, ada perbedaan penting antara hidup hemat sebagai pilihan dan hidup hemat sebagai keterpaksaan. Bagi sebagian orang, frugal living adalah cara untuk mencapai kebebasan finansial, menyiapkan masa depan dan mengurangi konsumsi yang tidak perlu.

Bagi sebagian lainnya, hidup hemat adalah cara agar uang yang terbatas dapat bertahan hingga akhir bulan. Keduanya tidak bisa disamakan begitu saja.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan “Seberapa sedikit uang yang bisa kamu keluarkan?”, melainkan “Apakah cara kamu menggunakan uang membuat hidupmu lebih aman, lebih terarah dan lebih bermakna?”

Jika penghematan mampu memberikan ruang untuk menabung, memenuhi kebutuhan, membantu keluarga dan mencapai tujuan yang penting, maka frugal living tidak lagi sekadar tren media sosial.

Ia menjadi cara sadar untuk menentukan apa yang cukup di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk membeli lebih banyak.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.