
Gentra.id-Ada masa ketika kata “keren” identik dengan sesuatu yang mahal.
Pakaian bermerek. Restoran mahal. Liburan ke tempat yang jauh. Secangkir kopi dengan latar gedung pencakar langit. Atau foto dengan pencahayaan sempurna yang tampak seperti hasil kerja seorang fotografer profesional.
Namun di media sosial, ukuran itu perlahan seperti sedang digeser.
Kini, mengulang pakaian yang sama, makan sendirian, tidur lebih awal, tidak ikut pesta, menikmati waktu sendiri, hingga menjalani hidup dengan cara yang dianggap “tidak keren” justru bisa diberi satu label baru: kinda chic.
Frasa berbahasa Inggris itu tengah ramai digunakan di TikTok, Instagram, dan berbagai platform media sosial sepanjang 2026. Polanya sederhana: “kinda chic to...” lalu dilanjutkan dengan sesuatu yang sebenarnya biasa saja.
Misalnya, memakai pakaian yang sama berulang kali. Atau memilih pulang lebih awal ketika orang lain masih berpesta. Atau makan sendirian di warung kaki lima
Hal-hal yang dahulu mungkin dianggap biasa, bahkan sebagian dianggap tidak menarik, kini dipotret sebagai sesuatu yang layak dirayakan.
Dari “Chic” ke “Kinda Chic”
Secara bahasa, kinda merupakan bentuk informal dari kind of, sementara chic berarti bergaya, elegan, atau fashionable.
Tetapi ketika keduanya bertemu di media sosial, maknanya menjadi lebih cair.
“Kinda chic” bukan berarti benar-benar mewah atau elegan. Justru ada unsur bercanda di dalamnya.
Seseorang seolah mengatakan: mungkin ini bukan sesuatu yang secara tradisional disebut keren, tetapi saya menyukainya. Jadi, biarlah saya menyebutnya keren.
Psychology Today dalam tulisan Bruce Y. Lee, M.D., M.B.A., yang diterbitkan 17 Agustus 2026, melihat tren tersebut sebagai cara pengguna media sosial memberikan label positif terhadap kebiasaan sehari-hari, hal-hal yang berantakan, perawatan diri, hingga pilihan hidup yang tidak selalu sesuai dengan ekspektasi sosial.
Di titik itu, kinda chic menjadi lebih dari sekadar bahasa gaul. Ia seperti permainan kecil untuk mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Rambut berantakan tidak lagi harus disembunyikan. Tubuh tidak harus mengikuti standar tertentu agar dianggap menarik. Menjadi lajang tidak harus diperlakukan sebagai kegagalan. Makan sendirian tidak harus berarti kesepian.
Dan menggunakan pakaian yang sama berkali-kali tidak otomatis berarti tidak mampu membeli pakaian baru. Semuanya bisa saja menjadi kinda chic.
Ketika Kehidupan Biasa Menjadi Konten
Salah satu kekuatan tren ini justru terletak pada kesederhanaannya.
Tidak diperlukan kamera mahal. Tidak harus memiliki pakaian bermerek. Bahkan tidak membutuhkan kehidupan yang spektakuler. Sebuah foto sederhana dan beberapa kata sudah cukup.
The Guardian mencatat bahwa format kinda chic berkembang cepat di Instagram dan TikTok sepanjang musim panas 2026. Unggahan biasanya menggunakan foto atau video dengan tulisan “kinda chic to...” yang ditempatkan di atas gambar. Isinya dapat berupa kebiasaan sehari-hari, pengalaman pribadi, perjalanan spontan, hingga pilihan hidup yang tidak lazim.
Format semacam ini memang sangat cocok dengan karakter media sosial. Ia mudah dibuat. Mudah ditiru. Dan yang paling penting, mudah dipahami.
Seseorang tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengapa memakai pakaian yang sama tiga hari berturut-turut membuatnya nyaman. Cukup satu kalimat: “kinda chic to repeat your favorite outfit.” Selesai.
Kehidupan sehari-hari yang tadinya terlalu biasa untuk menjadi cerita mendadak memperoleh panggung.
Melawan Kehidupan yang Terlalu Sempurna
Ada sesuatu yang menarik dari tren ini.
Selama bertahun-tahun, media sosial sering dianggap sebagai tempat orang memamerkan versi terbaik dari kehidupannya.
Foto liburan dipilih yang paling indah. Makanan ditata sebelum dimakan. Kamar dirapikan sebelum difoto. Wajah diperhalus dengan filter. Kesuksesan ditampilkan, sementara kegagalan sering disimpan di luar layar.
Kinda chic datang dengan logika yang sedikit berbeda.
Ia tidak selalu menghapus ketidaksempurnaan. Sebaliknya, ketidaksempurnaan justru bisa menjadi bagian dari cerita.
Dalam beberapa unggahan, pengguna menjadikan tubuh, usia, kebiasaan sederhana, atau pilihan hidup personal sebagai sesuatu yang patut dirayakan.
Tren ini bahkan dipakai untuk membicarakan body positivity, kesehatan mental, pertumbuhan diri, dan batasan dalam hubungan sosial.
Dengan kata lain, “keren” tidak lagi harus berasal dari apa yang dimiliki.
Keren bisa berasal dari bagaimana seseorang menerima dirinya sendiri.
Dari Self-Acceptance hingga Gaya Hidup
Di sinilah kinda chic menjadi menarik untuk dibaca sebagai fenomena budaya digital.
Ia memperlihatkan bagaimana bahasa media sosial dapat mengubah persepsi terhadap sesuatu.
Makan sendirian, misalnya. Bagi sebagian orang, makan sendiri mungkin pernah dianggap menyedihkan. Tetapi ketika diberi caption “kinda chic to take yourself out for dinner”, aktivitas itu berubah menjadi simbol kemandirian.
Begitu pula dengan tidur lebih awal.
Dalam budaya yang sering menganggap begadang sebagai bagian dari kesibukan, tidur pukul 21.00 bisa terasa seperti keputusan yang membosankan.
Tetapi dengan bahasa kinda chic, tidur lebih awal dapat diposisikan sebagai bentuk menghargai diri sendiri.
Hal serupa berlaku ketika seseorang memilih tidak ikut pesta, mengulang pakaian favorit, belajar sesuatu yang baru, atau menjauh dari lingkungan yang dianggap tidak sehat.
Dictionary.com mencatat bahwa tren ini memang digunakan secara sangat luas. Tidak ada satu tema tunggal yang mengikat semua unggahan. Sesuatu yang sangat personal hingga aktivitas yang sangat spesifik bisa dimasukkan ke dalam kategori kinda chic.
Barangkali justru di situlah daya tariknya. Tidak ada standar tunggal mengenai apa yang boleh disebut keren.
Tetapi Tren Ini Juga Tidak Lepas dari Kritik
Seperti hampir semua tren media sosial, kinda chic akhirnya menghadapi persoalan yang sama: ketika sesuatu menjadi viral, orang mulai mengulanginya.
Kalimat yang awalnya terasa spontan berubah menjadi formula. Foto yang awalnya personal berubah menjadi template.
Dan sesuatu yang semula terasa autentik perlahan dapat terlihat seperti konten yang dibuat karena algoritma.
The Guardian mencatat kritik terhadap format ini karena dianggap membuat konten media sosial semakin seragam dan mudah ditiru. Bahkan muncul anggapan bahwa tren tersebut merupakan bentuk konten “copy-paste” yang mendapat keuntungan dari mekanisme algoritma.
Kritik serupa semakin terlihat dalam perkembangan terbaru.
Marie Claire Inggris pada 20 Agustus 2026 menulis bahwa popularitas kinda chic mulai berbalik menjadi kejenuhan. Frasa tersebut bahkan mulai diparodikan dengan ungkapan “kinda not chic” dan dianggap terlalu sering digunakan.
Ironisnya, keadaan itu justru memperlihatkan betapa cepatnya sebuah tren media sosial bergerak.
Kemarin dianggap keren. Hari ini dianggap biasa. Besok mungkin sudah dianggap basi.
Ketika “Keren” Tidak Lagi Harus Terlihat Mahal
Pada akhirnya, mungkin kinda chic bukan terutama tentang pakaian, makanan, gaya hidup, atau estetika.
Ia tentang hak seseorang untuk menentukan sendiri apa yang membuat hidupnya terasa menyenangkan.
Di dunia yang setiap hari dipenuhi foto kehidupan orang lain, definisi “keren” bisa menjadi sesuatu yang melelahkan.
Selalu ada rumah yang lebih bagus. Mobil yang lebih mahal. Tubuh yang dianggap lebih ideal. Liburan yang terlihat lebih mewah. Karier yang tampak lebih sukses.
Kinda chic menawarkan jalan kecil untuk keluar dari perlombaan itu—setidaknya untuk sementara.
Memakai pakaian lama tetap boleh. Makan sendirian juga boleh. Tidak datang ke pesta tidak masalah. Tidur lebih awal bukan dosa.
Menjadi diri sendiri pun ternyata bisa diberi label yang sama.
Kinda chic.
Mungkin itu pula yang membuat tren ini cepat diterima. Sebab di balik dua kata tersebut terdapat pesan sederhana: kehidupan tidak harus terlihat luar biasa untuk layak dirayakan.
Dan ketika semua orang berlomba membuat hidupnya terlihat sempurna di layar medsos, barangkali sesuatu yang paling menarik justru adalah ketika seseorang berani menunjukkan bahwa hidupnya biasa-biasa saja—dan ia baik-baik saja dengan itu.
Untuk sementara, setidaknya, hal biasa itu masih terasa keren.
KOLOM OPINI LAINNYA

Bersama Anak-Anak Pejuang Kanker untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Meneladani Rasulullah SAW dalam Mendidik Keluarga di Tengah Tantangan Zaman

Siapa Suruh Ikut Organisasi? Teriak Gen Z

81 Tahun Merdeka, Kemiskinan Kabupaten Tasikmalaya Masih Jadi Pekerjaan Rumah Besar
