HUT TNI dan Gen Z: Ketika Patriotisme Masuk ke Ruang Digital

5 Okt 2026, 10.34 WIB
WhatsAppSaluran
HUT TNI dan Gen Z: Ketika Patriotisme Masuk ke Ruang Digital
Ilustrasi TNI dan Generasi Z di era digital. HUT TNI menjadi momentum melihat kembali bagaimana generasi muda memaknai patriotisme, bela negara, dan peran TNI di tengah perubahan zaman.CameraGentra.id/AI

Gentra.id-Ada satu pertanyaan yang menarik diajukan pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI), 5 Oktober 2026: bagaimana generasi muda hari ini memandang TNI?

Pertanyaan ini penting karena Indonesia sedang hidup dalam perubahan generasi. Anak-anak muda yang tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan dan arus informasi tanpa batas memiliki cara berbeda dalam mengenal sebuah institusi dibanding generasi sebelumnya.

Bagi sebagian generasi terdahulu, tentara mungkin pertama-tama dikenal melalui seragam, upacara, senjata, latihan militer dan kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Bagi Generasi Z, perjumpaan dengan TNI bisa terjadi dengan cara yang sangat berbeda: melalui TikTok, Instagram, YouTube, potongan video, meme, pemberitaan, bahkan komentar warganet.

Di sinilah tantangannya.

Tema HUT ke-81 TNI tahun 2026, “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, sesungguhnya membuka ruang untuk membicarakan kembali hubungan antara TNI dan generasi muda. Bukan sekadar bagaimana TNI ingin dilihat oleh anak muda, tetapi bagaimana anak muda memahami posisi dan peran TNI dalam kehidupan Indonesia hari ini.

Generasi Z bukan sekadar penonton

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Sensus Penduduk 2020 menunjukkan Generasi Z—penduduk yang lahir pada 1997-2012—mencapai 27,94 persen populasi Indonesia atau sekitar 74,93 juta jiwa. Jumlah tersebut menjadikan Gen Z salah satu kelompok generasi terbesar dalam struktur penduduk Indonesia.

Artinya, membicarakan masa depan Indonesia tanpa membicarakan Gen Z adalah sesuatu yang sulit dilakukan.

Mereka bukan hanya konsumen informasi. Mereka adalah mahasiswa, pekerja, pelaku UMKM, kreator konten, relawan, aktivis komunitas, calon pemimpin, pemilih dan kelak pengambil keputusan di berbagai bidang.

Karena itu, hubungan TNI dengan generasi muda tidak cukup dibangun melalui seremoni tahunan. Ada kebutuhan untuk membangun komunikasi yang lebih relevan dengan dunia mereka.

Survei dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 yang diterbitkan Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan kelompok usia muda mendominasi responden. Dokumen tersebut juga mencatat bahwa Generasi Z merupakan kelompok yang aktif menggunakan layanan digital untuk pendidikan, pencarian informasi, interaksi sosial dan ekspresi kreatif.

Ruang digital, dengan demikian, bukan sekadar tempat hiburan bagi generasi muda. Ia sudah menjadi ruang sosial tempat mereka membentuk pandangan terhadap dunia, termasuk terhadap negara dan institusinya.

TNI tidak cukup hanya hadir di layar

TNI sebenarnya sudah memasuki ruang digital. Situs resmi TNI menunjukkan komunikasi publik menjadi bagian dari aktivitas kelembagaan, sementara berbagai satuan juga menggunakan media sosial untuk menyampaikan kegiatan dan informasi kepada masyarakat.

Namun, hadir di media sosial tidak otomatis berarti dekat dengan generasi muda.

Ada perbedaan antara hadir di platform dan hadir dalam percakapan.

Generasi Z terbiasa dengan komunikasi dua arah. Mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga bertanya, mengomentari, membandingkan dan memeriksa informasi dari berbagai sumber.

Karena itu, komunikasi TNI kepada generasi muda akan semakin relevan jika tidak hanya berisi dokumentasi kegiatan, tetapi juga menjelaskan persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Misalnya, apa arti pertahanan negara ketika ancaman tidak selalu berbentuk perang? Apa hubungan keamanan siber dengan kehidupan mahasiswa? Mengapa disinformasi dapat menjadi persoalan kebangsaan? Apa peran anak muda ketika terjadi bencana? Mengapa ketahanan pangan dan energi juga memiliki dimensi strategis?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat menjadi jembatan antara dunia militer dan kehidupan anak muda.

Patriotisme juga mengalami perubahan bentuk

Dulu, patriotisme sering dibayangkan dalam bentuk keberanian mengangkat senjata dan mempertahankan wilayah negara.

Makna itu tetap penting. Namun zaman berkembang.

Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 bahkan mendorong anak muda untuk melihat ruang digital sebagai bagian dari medan bela negara. Dalam kegiatan Gaskeun Camp di Bandung, pemerintah mengangkat persoalan hoaks, disinformasi, malinformasi dan apatisme digital sebagai tantangan yang perlu dihadapi bersama.

Ini menarik.

Sebab seorang anak muda yang memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menolak menyebarkan kebencian, menjaga lingkungan, membantu korban bencana, menciptakan lapangan kerja atau menggunakan teknologi untuk kepentingan sosial juga sedang mengambil bagian dalam kehidupan berbangsa.

Bela negara akhirnya tidak hanya menjadi urusan mereka yang mengenakan seragam.

Ia menjadi tanggung jawab warga negara.

Dalam konteks tersebut, TNI memiliki peluang untuk memperkenalkan patriotisme dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda. Bukan dengan menggurui, melainkan dengan menunjukkan bahwa kecintaan kepada negara dapat diwujudkan melalui banyak bentuk pengabdian.

Generasi yang membutuhkan alasan, bukan sekadar slogan

Panglima TNI dalam sejumlah kesempatan pada 2026 menekankan pentingnya generasi muda yang adaptif, berkarakter dan berintegritas di tengah perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan dan dinamika geopolitik global.

Pesan itu relevan dengan tantangan hari ini.

Generasi muda tidak hidup dalam dunia yang sederhana. Mereka menghadapi banjir informasi, perubahan teknologi yang cepat, ketidakpastian pekerjaan, persoalan lingkungan, perubahan geopolitik dan perkembangan kecerdasan buatan.

Karena itu, ketika berbicara mengenai TNI kepada Gen Z, mungkin yang dibutuhkan bukan hanya slogan tentang nasionalisme.

Mereka membutuhkan konteks.

Mereka perlu memahami mengapa pertahanan negara penting. Mereka perlu mengetahui bagaimana ancaman terhadap kedaulatan berkembang. Mereka perlu melihat bahwa profesionalisme, integritas dan disiplin bukan sekadar nilai yang berlaku di lingkungan militer, tetapi juga nilai yang dibutuhkan masyarakat sipil.

Pada titik inilah hubungan TNI dan generasi muda dapat dibangun secara lebih sehat: melalui pengetahuan, dialog dan pengalaman bersama.

HUT TNI seharusnya menjadi ruang perjumpaan

HUT TNI ke-81 pada akhirnya bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah institusi.

Ia bisa menjadi momentum untuk bertanya apakah jarak antara generasi muda dan institusi pertahanan semakin dekat atau justru semakin lebar.

Jawabannya tidak harus dicari melalui survei semata. Ia bisa dimulai dari percakapan sederhana: bagaimana anak muda memahami TNI, apa yang mereka harapkan dari institusi pertahanan, apa yang mereka belum pahami dan persoalan apa yang ingin mereka diskusikan.

Generasi Z tidak perlu selalu ditempatkan sebagai objek sosialisasi.

Mereka bisa ditempatkan sebagai mitra dialog.

Sebab Indonesia yang akan dijaga kedaulatannya hari ini adalah Indonesia yang kelak akan dipimpin oleh generasi yang sedang memenuhi ruang kelas, kampus, tempat kerja, komunitas dan media sosial.

Maka, jika tema HUT TNI tahun ini berbicara tentang “TNI Kuat Bersama Rakyat”, pertanyaannya bukan hanya seberapa kuat TNI bersama rakyat.

Pertanyaan yang juga layak diajukan adalah: seberapa kuat hubungan TNI dengan generasi yang akan menjadi masa depan rakyat Indonesia?

Mungkin di situlah makna kedekatan TNI dengan rakyat perlu terus diperbarui—bukan hanya melalui kehadiran di tengah masyarakat, tetapi juga melalui kemampuan memahami bahasa, kegelisahan dan harapan generasi yang akan mewarisi negeri ini.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH

Jurnalis/Penulis Gentra.id yang fokus pada analisis, berita, dan isu-isu terkini

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.