
Gentra.id-Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia seolah tidak pernah benar-benar selesai mengejar sesuatu. Setelah memiliki satu pencapaian, muncul keinginan berikutnya. Setelah membeli sesuatu, muncul standar baru yang ingin dimiliki. Media sosial pun membuat seseorang setiap hari berhadapan dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih bahagia, dan lebih sempurna.
Di tengah kondisi tersebut, sifat qonaah menjadi nilai Islam yang menarik untuk kembali direnungkan. Qonaah bukan sekadar menerima keadaan tanpa usaha, melainkan kemampuan menerima karunia Allah dengan lapang dada sembari tetap berikhtiar memperbaiki kehidupan.
Kehadiran qonaah menjadi semakin relevan ketika fenomena gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, stres, dan perasaan tidak cukup semakin banyak dibicarakan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental. Gangguan kecemasan sendiri diperkirakan dialami sekitar 359 juta orang pada 2021. WHO juga menegaskan bahwa gangguan mental dapat mengganggu kehidupan sehari-hari dan membutuhkan penanganan yang tepat.
Qonaah Bukan Berarti Menyerah
Dalam pemahaman Islam, qonaah sering dikaitkan dengan rasa cukup terhadap apa yang telah Allah berikan. Namun, qonaah tidak identik dengan kemalasan atau sikap pasrah terhadap kemiskinan.
Seorang yang qonaah tetap boleh memiliki cita-cita besar, bekerja keras, mencari rezeki, membangun usaha, menempuh pendidikan, bahkan mengejar kesuksesan. Yang membedakan adalah sumber ketenangan dirinya.
Ia tidak menjadikan pencapaian dunia sebagai satu-satunya ukuran harga diri.
Rasulullah SAW bersabda:
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.” (HR. Bukhari)
Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan modern. Seseorang dapat memiliki rumah besar, kendaraan mahal, jabatan tinggi, dan penghasilan besar, tetapi tetap merasa kekurangan. Sebaliknya, seseorang dengan kehidupan sederhana dapat merasakan ketenangan karena mampu menghargai apa yang dimilikinya.
Di sinilah qonaah bekerja: mengubah ukuran kekayaan dari sekadar apa yang berada di tangan menjadi apa yang ada di dalam hati.
Ketika Media Sosial Membuat Manusia Terus Membandingkan Diri
Salah satu persoalan kehidupan digital adalah munculnya budaya perbandingan sosial.
Seseorang melihat teman membeli rumah. Ia merasa tertinggal. Melihat orang lain menikah, ia merasa kehidupannya gagal. Melihat teman mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, ia merasa dirinya tidak memiliki masa depan.
Padahal, media sosial hanya memperlihatkan potongan kehidupan seseorang.
Budaya membandingkan diri tersebut dapat menciptakan perasaan kurang, iri, tidak puas, bahkan tekanan psikologis. Dalam konteks inilah ajaran qonaah memiliki relevansi yang kuat.
Rasulullah SAW mengajarkan agar manusia melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia dan tidak terus-menerus melihat kepada mereka yang berada di atasnya. Tujuannya agar seseorang tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Hadis ini diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah nomor 4142.
Pesan tersebut bukan ajakan untuk berhenti berkembang. Sebaliknya, ia merupakan cara mengendalikan perspektif agar ambisi tidak berubah menjadi ketidakpuasan tanpa akhir.
Qonaah dan Fenomena Materialisme
Penelitian psikologi juga menunjukkan adanya hubungan menarik antara materialisme dan kesejahteraan psikologis.
Sebuah meta-analisis yang menggabungkan 753 effect sizes dari 259 sampel independen menemukan bahwa orientasi materialisme berkaitan dengan tingkat well-being yang lebih rendah. Hubungan negatif tersebut terlihat dalam berbagai ukuran kesejahteraan pribadi.
Penelitian lain mengenai materialisme, rasa syukur, dan kepuasan hidup menunjukkan bahwa materialisme berkaitan dengan rendahnya kepuasan hidup, sementara rasa syukur menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan hubungan tersebut.
Temuan tersebut tidak berarti materialisme secara otomatis menyebabkan seseorang mengalami gangguan mental. Namun, penelitian memberikan gambaran bahwa ketika kebahagiaan terlalu bergantung pada kepemilikan dan pencapaian material, kesejahteraan subjektif dapat ikut terdampak.
Dalam perspektif Islam, qonaah menawarkan paradigma berbeda.
Bukan bertanya, “Apa lagi yang belum saya punya?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang sudah Allah berikan kepada saya?”
Perubahan pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupannya.
Al-Qur'an dan Konsep Ketenangan Jiwa
Al-Qur'an memberikan fondasi spiritual yang kuat mengenai ketenangan hati.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat tersebut menempatkan ketenteraman hati dalam hubungan dengan dzikir dan kedekatan kepada Allah.
Ayat ini tidak berarti seorang Muslim yang rajin beribadah otomatis terbebas dari kecemasan, depresi, atau gangguan mental. Pemahaman semacam itu justru perlu dihindari karena gangguan mental dapat memiliki berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.
Namun, ayat tersebut memberikan perspektif bahwa manusia membutuhkan fondasi spiritual dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan.
Qonaah menjadi salah satu bentuk penerimaan terhadap ketetapan Allah tanpa kehilangan semangat untuk berusaha.
“Hayatan Thayyibah” dan Kehidupan yang Baik
Konsep tersebut juga dapat ditemukan dalam QS. An-Nahl ayat 97. Allah menjanjikan hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik kepada orang beriman yang mengerjakan amal saleh.
Menariknya, dalam salah satu penafsiran yang tercantum pada Quran.com, Hasan al-Bashri menafsirkan hayatan thayyibah sebagai qana'ah.
Jika perspektif ini direnungkan, kehidupan yang baik tidak selalu identik dengan kehidupan yang serba berlebihan.
Kehidupan yang baik bisa berarti memiliki hati yang mampu menerima, bersyukur, bekerja secara halal, menikmati keluarga, menjaga hubungan sosial, serta tidak menjadikan dunia sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.
Qonaah dan Psikologi Positif
Dalam psikologi modern, konsep qonaah memiliki titik temu dengan sejumlah konsep seperti gratitude atau rasa syukur, acceptance, dan life satisfaction.
Sebuah meta-analisis yang menggabungkan 404 effect sizes dari 158 sampel independen dengan total sekitar 100.099 partisipan menemukan adanya hubungan sedang hingga kuat antara dispositional gratitude dan berbagai indikator well-being.
Tinjauan sistematis lainnya juga menemukan hubungan positif yang cukup konsisten antara rasa syukur dan kepuasan hidup, meskipun peneliti mengingatkan bahwa bukti mengenai hubungan sebab-akibat masih perlu diteliti lebih lanjut.
Penelitian pada konsumen muda juga menemukan bahwa intervensi berbasis rasa syukur dapat menurunkan keyakinan bahwa kekayaan material merupakan sumber kebahagiaan dan simbol kesuksesan.
Dengan demikian, secara konseptual terdapat ruang dialog antara nilai qonaah dalam Islam dan temuan psikologi mengenai rasa syukur serta kesejahteraan.
Qonaah Bukan Pengganti Pengobatan Mental
Ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan.
Qonaah bukan obat tunggal untuk depresi, gangguan kecemasan, bipolar, trauma, atau gangguan mental lainnya.
Seseorang yang mengalami gangguan mental membutuhkan dukungan yang sesuai. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater bukan tanda lemahnya iman. Justru mencari pertolongan merupakan bagian dari ikhtiar.
Agama dapat memberikan makna, harapan, dan kekuatan spiritual. Sementara tenaga profesional dapat membantu seseorang memahami kondisi psikologis dan mendapatkan intervensi yang sesuai.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Dalam konteks Indonesia, sebuah penelitian pada lebih dari 16 ribu individu melalui survei web menemukan bahwa 14,7 persen responden melaporkan gejala yang konsisten dengan kecemasan dan/atau depresi, sementara lebih dari 60 persen di antara mereka yang mengalami gejala tersebut belum pernah mendapatkan diagnosis formal.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan sekadar wacana.
Belajar Merasa Cukup di Tengah Dunia yang Tak Pernah Cukup
Pada akhirnya, qonaah bukan tentang memiliki sedikit.
Qonaah adalah kemampuan untuk tidak kehilangan kedamaian ketika memiliki sedikit, sekaligus tidak kehilangan kendali ketika memiliki banyak.
Seseorang boleh mengejar karier, membangun bisnis, membeli rumah, memiliki kendaraan, menabung, dan mencapai kesuksesan. Tetapi semua itu tidak semestinya menjadi satu-satunya sumber harga diri.
Dunia modern mengajarkan manusia untuk selalu berkata, “Belum cukup.”
Islam mengajarkan manusia untuk mengenali kapan harus berkata, “Alhamdulillah, ini sudah menjadi nikmat yang patut disyukuri.”
Di antara dua kalimat tersebut terdapat ruang besar bernama qonaah.
Dan mungkin, di tengah kehidupan yang semakin bising oleh tuntutan, perbandingan, algoritma, konsumsi, dan pencapaian, qonaah bukanlah sikap kuno.
Ia justru menjadi salah satu cara untuk menjaga agar manusia tetap mampu mengejar masa depan tanpa kehilangan ketenangan hari ini
Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Pemprov Jabar Buka 'Imah Aing', Perbaikan Rumah Tak Layak Huni Gratis

Ombudsman Jabar Buka 55 Layanan Publik Langsung di Pangandaran

Bukan Sekadar Lomba Agustusan, Polres Tasikmalaya Buka Ruang Kebersamaan dengan Warga

Astrid Juwita, Kreator Konten Asal Garut yang Tembus Layar Lebar, Debut Bareng Enzy Storia dan Afgan

Qonaah dan Mental Health: Cara Islam Menemukan Ketenangan

