Siapa Suruh Ikut Organisasi? Teriak Gen Z

Gentra.id-"Ngapain sih ikut organisasi? Kuliah saja yang benar. Organisasi itu cuma buang-buang waktu.”
Pertanyaan seperti ini mungkin sering terdengar di kalangan anak muda, apalagi ketika seseorang terlalu aktif dalam organisasi, pulang larut malam karena rapat, sibuk mengurus kegiatan, berdiskusi tentang persoalan sosial, atau bahkan rela mengorbankan waktu istirahatnya. Lalu muncul pertanyaan lain yang terdengar sederhana, tetapi sering kali mengandung penilaian: “Siapa suruh ikutan organisasi?”
Jawabannya juga sederhana, tidak ada yang menyuruh, kami memilihnya sendiri.
Namun, memilih organisasi bukan berarti memilih jalan yang selalu mudah, justru sebaliknya, organisasi sering kali mempertemukan kita dengan berbagai macam karakter manusia.
Ada yang idealis, pragmatis, keras kepala, pendiam, ambisius, ada yang hanya datang ketika membutuhkan kepentingan tertentu, bahkan ada pula senior yang menyebalkan, merasa paling tahu, sulit menerima kritik, dan menganggap pengalaman masa lalu sebagai alasan untuk selalu didengarkan.
Tetapi mungkin justru di situlah organisasi menjadi lebih dari sekadar aktivitas tambahan di luar kuliah, organisasi menjadi ruang pendidikan sosial.
Di ruang kelas, kita belajar teori, di organisasi, kita menguji apakah teori itu benar-benar bisa diterapkan dalam kehidupan. Kita belajar kepemimpinan, tetapi kemudian bertemu dengan anggota yang tidak mau dipimpin.
Kita belajar komunikasi, tetapi harus berhadapan dengan orang yang berbeda cara berpikir, kita belajar demokrasi, tetapi kemudian harus menerima keputusan yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi, kita belajar manajemen konflik, tetapi kemudian kita sendiri yang terlibat dalam konflik.
Di situlah intelektualitas diuji
Sebab intelektual bukan hanya persoalan seberapa banyak buku yang kita baca, seberapa tinggi IPK kita, atau seberapa sering kita mengutip pemikiran tokoh besar.
Intelektualitas seharusnya terlihat dari kemampuan seseorang memahami persoalan, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, kemudian mengambil sikap dengan argumentasi yang rasional.
Organisasi menyediakan laboratorium untuk itu
Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan: “Dialektika material tanpa konsep batasan moral hanya melahirkan arogansi intelektual.”
Sebab kemampuan berpikir dan berargumentasi, jika tidak dibatasi oleh moral, dapat berubah menjadi kesombongan, kritik dapat berubah menjadi penghinaan, perbedaan pendapat dianggap sebagai kebodohan, senioritas berubah menjadi alat untuk mendominasi, bahkan idealisme dapat digunakan untuk membenarkan kepentingan pribadi.
Di sinilah nilai-nilai Islam memiliki relevansi.
Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi pintar, tetapi juga menjadi berilmu dan berakhlak. Allah berfirman:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa ilmu tidak berdiri sendirian, ada iman yang menjadi fondasinya.
Karena itu, organisasi seharusnya bukan sekadar tempat mencari jabatan, membangun popularitas, atau memperbanyak gelar di belakang nama.
Organisasi seharusnya menjadi ruang untuk belajar mengabdikan ilmu kepada kehidupan sosial.
Dalam tradisi Islam, manusia tidak diposisikan sebagai makhluk yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, ada konsep khairu ummah, amar ma'ruf nahi munkar, dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, aktivisme anak muda semestinya tidak berhenti pada rapat, diskusi, demonstrasi, seminar, atau sekadar pergantian kepengurusan.
Pertanyaannya jauh lebih besar, setelah kita belajar banyak hal di organisasi, apa yang kita berikan kepada masyarakat?
Kalau kita belajar tentang keadilan tetapi masih tidak adil kepada teman sendiri, apa artinya? Kalau kita berbicara tentang demokrasi tetapi tidak mampu menghargai perbedaan pendapat, apa artinya? Kalau kita sering berbicara tentang Islam tetapi perilaku kita justru membuat orang lain kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai Islam, apa artinya?
Di sinilah organisasi menjadi ujian, bukan hanya ujian intelektual, tetapi juga ujian moral.
Dan tentu saja, organisasi bukan dunia yang sempurna, ada konflik, perebutan kepentingan, politik internal, kekecewaan, orang-orang yang mengejar jabatan, hingga mereka yang menggunakan idealisme hanya sebagai kendaraan untuk kepentingan pribadi.
Ada pula pengalaman-pengalaman yang tidak selalu menyenangkan, kita mungkin pernah bertemu senior yang terlalu dominan, orang yang sulit menerima kritik, atau mereka yang merasa bahwa karena pernah lebih dulu berada di organisasi, pendapatnya harus selalu dianggap paling benar. Hal-hal seperti itu bisa membuat seseorang lelah, bahkan bertanya-tanya mengapa harus bertahan.
Tetapi jangan sampai keburukan sebagian orang membuat kita menyimpulkan bahwa organisasi tidak berguna.
Sebab organisasi hanyalah wadah, manusialah yang menentukan apakah wadah itu menjadi tempat tumbuhnya kebaikan atau justru menjadi arena perebutan kepentingan.
Bagi Gen Z yang hidup di tengah derasnya informasi, organisasi sebenarnya masih memiliki relevansi. Hari ini kita bisa mengetahui berbagai persoalan dunia hanya melalui layar smartphone. Tetapi mengetahui persoalan tidak sama dengan memahami persoalan.
Membaca berita tidak sama dengan mengalami persoalan sosial, melihat konflik di media sosial tidak sama dengan belajar menyelesaikan konflik secara langsung. Mengutip teori kepemimpinan tidak sama dengan belajar memimpin manusia.
Organisasi mempertemukan kita dengan realitas itu
Di dalam organisasi, kita belajar bahwa manusia tidak selalu sesuai dengan teori, bahwa keputusan tidak selalu mudah, bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan respons yang baik.
Bahwa terkadang kita harus bekerja dengan orang yang tidak kita sukai, dan bahwa kedewasaan tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman menghadapi perbedaan, konflik, kekecewaan, dan tanggung jawab.
Maka kalau suatu hari seseorang bertanya, “Siapa suruh kamu ikut organisasi?”
Jawab saja, 'Tidak ada, saya memilihnya karena saya ingin belajar.'
Belajar tentang manusia, belajar tentang masyarakat, belajar tentang kepemimpinan, belajar tentang perbedaan, belajar tentang tanggung jawab.
Dan semoga, belajar bagaimana menjadikan ilmu bukan hanya sebagai kebanggaan pribadi, tetapi sebagai jalan pengabdian.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang aktivis bukanlah berapa tinggi jabatan yang pernah ia duduki, bukan pula berapa banyak organisasi yang pernah ia pimpin, atau berapa lama namanya tercantum dalam struktur kepengurusan.
Ukuran keberhasilannya adalah seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan setelah jabatan itu selesai.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ath-Daruquthni).
Jadi, siapa suruh ikutan organisasi?
Tidak ada yang menyuruh, kita memilihnya sendiri, dan kalau pilihan itu benar-benar diniatkan untuk mencari ilmu, membangun kapasitas, menjaga akhlak, serta memberi manfaat kepada masyarakat, mungkin suatu hari kita akan memahami bahwa organisasi bukan tempat berkumpul manusia sempurna, tetapi tempat belajar menghadapi ketidaksempurnaan manusia.
Pada akhirnya kita menyadari satu hal, bukan siapa yang paling lama menduduki kursi itu, tetapi seberapa banyak yang kita bawa saat kita meninggalkannya.
Sekretaris GMNU Kota Tasikmalaya
Deden Faiz Taptajani, S.Sos. merupakan aktivis muda Kota Tasikmalaya yang aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan. Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kota Tasikmalaya, dengan fokus mendorong penguatan peran pemuda, pengembangan kepemimpinan, serta pengabdian kepada masyarakat. Selain aktif di GMNU, Ia juga dikenal sebagai pemerhati isu-isu sosial dan kebijakan publik yang konsisten menyuarakan aspirasi masyarakat melalui berbagai ruang diskusi dan advokasi.
KOLOM OPINI LAINNYA

81 Tahun Merdeka, Kemiskinan Kabupaten Tasikmalaya Masih Jadi Pekerjaan Rumah Besar

Memaknai Kemerdekaan Dengan Simpul Keadilan , Toleransi Hingga Saling Menjaga Sesama Manusia

Islam, Birokrasi, dan Moralitas Kekuasaan di Kota Tasikmalaya

Mencintai Indonesia Sepanjang Luka dan Sepenuh Asa
