
Gentra.id-Minuman manis sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari banyak orang. Mulai dari teh dengan tambahan gula, kopi susu, minuman bersoda, minuman energi, hingga berbagai minuman kekinian yang mudah ditemukan di sekitar kita.
Selama ini, terlalu banyak mengonsumsi minuman tinggi gula lebih sering dikaitkan dengan kenaikan berat badan, obesitas, dan diabetes tipe 2. Namun, penelitian terbaru menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dengan peningkatan risiko kanker lambung.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Gastro Hep Advances. Peneliti menganalisis data lebih dari 112.000 peserta dari studi kesehatan jangka panjang.
Hasil penelitian menunjukkan, peserta yang mengonsumsi sedikitnya satu porsi minuman berpemanis setiap hari memiliki risiko kanker lambung sekitar 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsi minuman tersebut kurang dari satu kali dalam sebulan. Pada kelompok perempuan, peningkatan risikonya bahkan dilaporkan lebih tinggi.
Meski demikian, temuan tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Penelitian ini bersifat observasional sehingga menunjukkan hubungan atau korelasi, bukan membuktikan bahwa minuman manis secara langsung menyebabkan kanker lambung.
Mengapa Minuman Tinggi Gula Bisa Berkaitan dengan Kanker?
Para peneliti mengemukakan sejumlah kemungkinan mekanisme biologis yang dapat menjelaskan hubungan tersebut.
Salah satunya adalah kenaikan berat badan. Minuman manis mengandung kalori yang relatif mudah dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa memberikan rasa kenyang seperti makanan padat. Jika dikonsumsi terus-menerus, kelebihan energi dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan.
World Cancer Research Fund (WCRF) menyebut konsumsi minuman berpemanis secara rutin memiliki bukti kuat dapat meningkatkan berat badan, kelebihan berat badan, dan obesitas. Sementara itu, kelebihan berat badan diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko sejumlah jenis kanker.
Selain itu, konsumsi gula dalam jumlah tinggi juga diduga berkaitan dengan resistensi insulin, peradangan, stres oksidatif, perubahan hormon, serta gangguan keseimbangan mikrobioma saluran pencernaan.
Kondisi-kondisi tersebut secara teoritis dapat menciptakan lingkungan biologis yang kurang menguntungkan bagi tubuh.
Namun, para peneliti sendiri menegaskan bahwa mekanisme pasti yang menghubungkan minuman berpemanis dengan kanker lambung masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Bukan Berarti Setiap Orang yang Suka Minuman Manis Akan Terkena Kanker
Temuan penelitian ini bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa setiap orang yang minum minuman manis pasti akan mengalami kanker lambung.
Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor. American Cancer Society mencatat sejumlah faktor yang berkaitan dengan kanker lambung, di antaranya infeksi Helicobacter pylori (H. pylori), kelebihan berat badan, pola makan tertentu, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, usia, riwayat keluarga, serta faktor genetik.
Infeksi H. pylori, misalnya, merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan kanker lambung. Infeksi jangka panjang dapat menyebabkan perubahan pada lapisan lambung yang pada sebagian orang dapat berkembang menjadi kondisi prakanker.
Artinya, konsumsi minuman manis hanyalah salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pola hidup secara keseluruhan.
Gula dalam Buah Tidak Sama dengan Gula Tambahan
Ada pula kesalahpahaman bahwa hasil penelitian tersebut berarti masyarakat harus menghindari seluruh jenis gula.
Padahal, gula alami yang terdapat dalam buah, sayuran, dan produk susu tidak sama dengan gula tambahan yang terdapat dalam minuman berpemanis.
WCRF menyarankan masyarakat mengurangi konsumsi makanan dan minuman dengan tambahan gula. Minuman seperti air putih, teh tanpa gula, atau kopi tanpa tambahan gula dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk konsumsi sehari-hari.
Masalah utama minuman berpemanis adalah gula dan kalori dapat masuk ke dalam tubuh dengan cepat tanpa selalu membuat seseorang merasa kenyang. Akibatnya, seseorang bisa mengonsumsi lebih banyak energi daripada yang dibutuhkan tubuh.
Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan obesitas.
Mulai Kurangi Minuman Manis dari Kebiasaan Sehari-hari
Mengurangi minuman manis sebenarnya tidak harus dilakukan secara ekstrem.
Kebiasaan sederhana seperti mengurangi jumlah gula dalam kopi atau teh, memilih air putih saat makan, membatasi minuman bersoda, serta tidak menjadikan minuman manis sebagai konsumsi harian dapat menjadi langkah awal.
Jika terbiasa minum minuman manis beberapa kali sehari, frekuensinya dapat dikurangi secara bertahap. Lidah juga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan rasa yang tidak terlalu manis.
Yang tidak kalah penting, pola makan sehat sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu jenis makanan atau minuman. Konsumsi buah dan sayuran, aktivitas fisik, menjaga berat badan tetap sehat, tidak merokok, membatasi alkohol, serta memperhatikan faktor risiko seperti infeksi H. pylori juga merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan lambung.
Jangan Panik, tetapi Jangan Menganggap Sepele
Penelitian mengenai hubungan minuman manis dan kanker lambung memberikan satu pesan penting: kebiasaan makan dan minum sehari-hari dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan.
Namun, hasil penelitian tersebut belum dapat digunakan untuk mengatakan bahwa minuman manis adalah penyebab langsung kanker lambung. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan mekanisme biologis dan hubungan sebab-akibatnya.
Karena itu, langkah yang paling masuk akal bukanlah panik, melainkan mulai mengurangi konsumsi gula tambahan.
Segelas minuman manis mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika menjadi kebiasaan setiap hari selama bertahun-tahun, jumlah gula dan kalori yang masuk ke tubuh tentu akan terakumulasi.
Menjadikan air putih dan minuman tanpa gula sebagai pilihan utama merupakan perubahan kecil yang relatif mudah dilakukan. Bukan hanya demi menjaga berat badan, tetapi juga sebagai bagian dari pola hidup yang lebih sehat dalam jangka panjang.
ARTIKEL TERKINI LAINNYA

Pemkab Garut Raih Penghargaan IIGCE 2026, Bukti Komitmen Kembangkan Energi Panas Bumi

201 Warga Ciamis Terima Bantuan Bedah Rumah, Gotong Royong Jadi Kunci

Kebanyakan Minuman Manis Ternyata Bisa Berdampak pada Risiko Kanker Lambung

Krisis Air Bersih Melanda Kutawaringin Tasikmalaya, 238 KK Terima Bantuan

Sobat KBB Dorong Orang Muda Jabar Jadi Penggerak Ruang Aman dan Inklusif
