Tumor Pankreas: Gejala Mirip Maag yang Wajib Diwaspadai

4 Agu 2026, 15.11 WIB
WhatsAppSaluran
Tumor Pankreas: Gejala Mirip Maag yang Wajib Diwaspadai
Ilustrasi oprasi tubuh bagian dalam /CameraUnsplash

Gentra.id-Tumor pankreas merupakan salah satu penyakit yang sering disebut sebagai silent disease karena pada tahap awal hampir tidak menimbulkan gejala yang khas. Banyak penderita baru mengetahui adanya tumor setelah ukurannya membesar atau bahkan telah menyebar ke organ lain. Tak heran jika keluhan awal seperti nyeri ulu hati, perut kembung, mual, hingga gangguan pencernaan kerap dianggap sebagai penyakit maag biasa.

Belakangan, kisah seorang perempuan asal Palangkaraya Kalimantan tengah, Gloria Pujihu, berusia 26 tahun yang didiagnosis tumor pankreas viral di media sosial, setelah sempat mengira keluhannya hanya maag kembali mengingatkan masyarakat bahwa gangguan pada pankreas tidak boleh dianggap remeh. Meski tumor pankreas lebih sering ditemukan pada usia lanjut, penyakit ini juga dapat terjadi pada usia muda, terutama bila terdapat faktor risiko tertentu

Apa Itu Tumor Pankreas?

Pankreas adalah organ yang terletak di belakang lambung. Organ ini memiliki dua fungsi penting, yaitu menghasilkan enzim untuk membantu proses pencernaan makanan dan memproduksi hormon seperti insulin yang berfungsi mengatur kadar gula darah.

Tumor pankreas adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada jaringan pankreas. Tumor ini dapat bersifat jinak maupun ganas (kanker pankreas). 

Menurut American Cancer Society, sekitar 95 persen kanker pankreas berasal dari sel eksokrin, yaitu sel yang menghasilkan enzim pencernaan. Sementara sebagian kecil lainnya merupakan tumor neuroendokrin yang berasal dari sel penghasil hormon.

Mengapa Tumor Pankreas Sulit Dideteksi?

Salah satu tantangan terbesar penyakit ini adalah gejalanya yang sangat samar. Pada stadium awal, tumor sering kali tidak menimbulkan keluhan sehingga penderita tetap beraktivitas seperti biasa.

American Cancer Society menjelaskan bahwa gejala biasanya baru muncul ketika tumor sudah membesar atau menekan organ di sekitarnya. Kondisi inilah yang menyebabkan banyak pasien terlambat mendapatkan diagnosis.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Beberapa gejala yang perlu mendapat perhatian antara lain:

-Nyeri pada ulu hati atau perut bagian atas yang menjalar ke punggung.

-Mual dan muntah yang berlangsung terus-menerus.

-Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.

-Nafsu makan menurun.

-Tubuh mudah lelah.

-Mata dan kulit menguning (jaundice).

-Urine berwarna gelap.

-Feses pucat atau berminyak akibat gangguan pencernaan lemak.

-Muncul diabetes baru secara tiba-tiba, terutama pada orang dewasa yang sebelumnya tidak memiliki riwayat diabetes.

Karena banyak gejala tersebut menyerupai gangguan lambung, penderita sering mengonsumsi obat maag berulang kali tanpa mengetahui penyebab sebenarnya.

Faktor Risiko Tumor Pankreas

Hingga kini penyebab pasti tumor pankreas belum diketahui. Namun sejumlah penelitian menunjukkan beberapa faktor dapat meningkatkan risikonya, antara lain:

-Kebiasaan merokok.

-Obesitas atau kelebihan berat badan.

-Diabetes melitus.

-Riwayat pankreatitis kronis.

-Riwayat keluarga dengan kanker pankreas.

-Kelainan genetik tertentu.

-Usia yang semakin bertambah.

Meski demikian, seseorang tanpa faktor risiko pun tetap dapat mengalami tumor pankreas sehingga kewaspadaan terhadap gejala tetap diperlukan.

Bagaimana Diagnosis Dilakukan?

Jika dokter mencurigai adanya tumor pankreas, beberapa pemeriksaan dapat dilakukan, di antaranya:

-Tes darah.

-USG abdomen.

-CT Scan.

-MRI.

-Endoscopic Ultrasound (EUS).

-Biopsi jaringan untuk memastikan jenis tumornya.

Semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang pasien memperoleh terapi yang efektif.

Pilihan Pengobatan

Pengobatan tumor pankreas sangat bergantung pada jenis, ukuran, lokasi, dan stadium penyakit.

Apabila tumor masih terbatas pada pankreas, operasi menjadi pilihan utama untuk mengangkat jaringan yang terkena. Pada beberapa kasus, tindakan operasi dapat dikombinasikan dengan kemoterapi maupun radioterapi guna menurunkan risiko kekambuhan.

Untuk kanker pankreas stadium lanjut, terapi biasanya difokuskan pada kemoterapi, terapi target, imunoterapi pada kondisi tertentu, serta pengobatan suportif untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pasien. National Cancer Institute menegaskan bahwa penanganan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien melalui evaluasi tim multidisiplin.

Bisakah Tumor Pankreas Dicegah?

Tidak semua kasus dapat dicegah, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan risiko.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:

-Berhenti merokok.

-Menjaga berat badan ideal.

-Rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu.

-Memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan makanan tinggi serat.

-Mengurangi konsumsi makanan olahan tinggi lemak jenuh.

-Mengontrol kadar gula darah bagi penderita diabetes.

-Membatasi konsumsi alkohol.

-Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala apabila memiliki riwayat keluarga kanker pankreas.

Jangan Anggap Sepele Nyeri Lambung yang Tak Kunjung Sembuh

Banyak orang memilih mengobati sendiri keluhan nyeri lambung dengan obat bebas. Padahal, jika keluhan berlangsung selama beberapa minggu, disertai penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, atau nyeri yang menjalar ke punggung, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Deteksi dini menjadi kunci utama dalam meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Semakin cepat tumor ditemukan sebelum menyebar, semakin besar kemungkinan pasien mendapatkan tindakan operasi yang bersifat kuratif.

Kesadaran adalah Bentuk Pencegahan Terbaik

Tumor pankreas memang termasuk penyakit yang sulit dikenali karena gejalanya sering menyerupai gangguan pencernaan biasa. Namun, bukan berarti penyakit ini tidak dapat diwaspadai. Mengenali perubahan pada tubuh, tidak menunda pemeriksaan medis ketika gejala menetap, serta menerapkan gaya hidup sehat merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko.

Kesadaran masyarakat mengenai tumor pankreas juga perlu terus ditingkatkan. Edukasi yang benar dapat mendorong lebih banyak orang melakukan pemeriksaan lebih awal sehingga peluang sembuh menjadi lebih besar. 

Pada akhirnya, kesehatan tidak hanya bergantung pada kecanggihan pengobatan, tetapi juga pada keberanian untuk tidak mengabaikan sinyal-sinyal kecil yang diberikan tubuh.

Nanang AH
Nanang AH

Wartawan senior Gentra.id yang berfokus pada analisis hukum, politik, dan kebijakan publik di Indonesia.

Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang