
Gentra.id-Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada lantunan selawat, pembacaan sirah, atau kemeriahan sebuah peringatan. Di balik kegembiraan mengenang kelahiran Rasulullah SAW, ada pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: sudah sejauh mana kita meneladani beliau di dalam rumah sendiri?
Sebab rumah adalah tempat pertama manusia belajar tentang kehidupan.
Di sanalah seorang anak pertama kali mengenal suara kasih sayang, belajar membedakan benar dan salah, melihat bagaimana orang dewasa menyelesaikan pertengkaran, serta memahami apa arti menjadi seorang Muslim.
Ketika keluarga berbicara tentang keteladanan Rasulullah SAW, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang sesuatu yang sangat sederhana sekaligus sangat sulit: bagaimana menghadirkan akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah SAW dan Seni Mendidik Keluarga dengan Kasih Sayang
Al-Qur'an memberikan tanggung jawab yang sangat jelas kepada orang beriman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
(QS. At-Tahrim: 6).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama. Keluarga adalah amanah yang harus dijaga.
Namun menjaga keluarga tidak selalu berarti memberikan sebanyak-banyaknya larangan.
Rasulullah SAW justru menunjukkan bahwa pendidikan sangat dekat dengan kasih sayang.
Dalam hadis riwayat Bukhari, misalnya, Rasulullah SAW memberikan perhatian terhadap anak-anak dan menegaskan besarnya keutamaan memperlakukan anak perempuan dengan baik.
Kasih sayang dalam keluarga bukan kelemahan. Ia justru menjadi pintu masuk pendidikan.
Anak yang merasa dicintai akan lebih mudah mendengarkan. Anak yang merasa dihargai akan lebih berani bercerita. Dan anak yang memiliki rumah sebagai tempat aman tidak akan mudah mencari penerimaan di tempat lain.
Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam memperlakukan pasangan. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dari Aisyah RA, beliau bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan beliau menyatakan dirinya sebagai orang yang paling baik kepada keluarganya.
Kalimat tersebut terasa semakin relevan hari ini.
Sebab seseorang bisa tampak sangat santun di depan masyarakat, tetapi kehilangan kelembutan ketika pintu rumah tertutup.
Padahal, ukuran akhlak justru salah satunya terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukan orang-orang yang paling dekat dengannya.
Ketika Rumah Ramai, tetapi Hati Saling Berjarak
Tantangan keluarga hari ini tidak selalu berbentuk konflik besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi.
Ayah duduk di ruang tamu dengan telepon genggam. Ibu sibuk dengan pekerjaan. Anak berada di kamar dengan layar yang menyala. Mereka tinggal di bawah atap yang sama, tetapi masing-masing hidup dalam dunianya sendiri.
Teknologi memang memberikan kemudahan luar biasa. Namun tanpa pendampingan, dunia digital juga dapat mengambil ruang yang seharusnya menjadi milik keluarga.
Anak dapat memperoleh ribuan informasi dalam sehari, tetapi belum tentu memiliki seseorang untuk bertanya apakah informasi tersebut benar.
Ia dapat memiliki ratusan teman di media sosial, tetapi belum tentu mempunyai tempat untuk menangis ketika sedang menghadapi masalah.
Di sinilah tarbiyat atau pendidikan keluarga menjadi semakin penting.
Secara psikologi perkembangan, hubungan yang responsif dan penuh perhatian antara anak dengan pengasuh merupakan bagian penting dari perkembangan sosial dan emosional anak. Konsep serve and return yang dikembangkan Harvard Center on the Developing Child, misalnya, menjelaskan bagaimana respons orang dewasa terhadap interaksi anak membantu membangun fondasi perkembangan dan kemampuan sosial-emosional.
Dengan kata lain, kehadiran orang tua bukan sekadar kehadiran fisik. Anak membutuhkan respons, perhatian, percakapan, dan rasa aman.
Di titik ini, ajaran Rasulullah SAW dan temuan psikologi modern bertemu dalam satu ruang: pentingnya hubungan manusia yang hangat.
Tantangan Keluarga Bukan Hanya Gawai. Keluarga modern menghadapi persoalan yang lebih luas.
Ada tekanan ekonomi, kesibukan pekerjaan, perubahan pola komunikasi, budaya konsumtif, perbandingan kehidupan melalui media sosial, hingga semakin beragamnya informasi yang diterima anak.
Orang tua pun menghadapi tantangan baru. Mereka ingin anaknya menjadi saleh, tetapi terkadang terlalu sibuk untuk menemani prosesnya.
Mereka berharap anak mencintai Al-Qur'an, tetapi anak lebih sering melihat orang tua memegang telepon daripada memegang mushaf.
Mereka meminta anak berbicara dengan santun, tetapi mungkin anak justru mendengar pertengkaran dengan suara keras di rumah. Di sinilah persoalan tarbiyah menjadi sangat mendasar.
Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua. Anak belajar dari apa yang dilakukan orang tua.
Karena itu, meneladani Rasulullah SAW dalam keluarga berarti memulai perubahan dari diri sendiri.
Jika ingin anak rajin salat, orang tua perlu menunjukkan kecintaan terhadap salat. Jika ingin anak jujur, rumah harus menjadi tempat kejujuran.
Jika ingin anak menghormati orang lain, ayah dan ibu harus memperlihatkan penghormatan dalam hubungan mereka.
Jika ingin anak mencintai Rasulullah SAW, jangan hanya meminta mereka menghafal kisah Nabi. Hadirkan akhlak Nabi dalam kehidupan keluarga.
Maulid Nabi SAW dan Momentum Menghidupkan Kembali Keteladanan
Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.
Selawat yang kita lantunkan seharusnya tidak hanya berhenti di bibir. Ia perlu bergerak menuju perilaku.
Kisah kelembutan Rasulullah SAW harus menjadi kelembutan orang tua kepada anak.
Kisah kesabaran beliau harus menjadi kesabaran ketika menghadapi kenakalan anak.
Kisah kasih sayang beliau harus hadir ketika anak melakukan kesalahan.
Dan ajaran beliau tentang keluarga harus menjadi pedoman ketika suami dan istri menghadapi perbedaan.
Tarbiyah Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa pendidikan membutuhkan proses. Anak tidak tumbuh menjadi manusia saleh hanya karena satu nasihat.
Ia tumbuh melalui ribuan contoh kecil yang dilihat setiap hari.
Satu doa sebelum tidur. Satu pelukan ketika anak gagal. Satu percakapan setelah salat. Satu permintaan maaf ketika orang tua ternyata keliru. Satu makan bersama tanpa gawai.
Hal-hal kecil semacam itu mungkin tampak sederhana. Tetapi justru dari sanalah karakter perlahan dibentuk.
Menjadikan Rumah sebagai Tempat Pulang
Pada akhirnya, meneladani Rasulullah SAW dalam keluarga bukan tentang menciptakan keluarga yang sempurna. Tidak ada keluarga tanpa kesalahan.
Yang penting adalah bagaimana keluarga belajar kembali kepada nilai-nilai kebaikan ketika kesalahan terjadi.
Rumah semestinya menjadi tempat seseorang merasa diterima, sekaligus tempat ia belajar bertanggung jawab.
Tempat anak boleh bertanya, tetapi juga belajar mendengar.
Tempat orang tua memberikan aturan, tetapi juga mau mendengarkan.
Tempat agama tidak hanya diajarkan sebagai teori, melainkan dihidupkan melalui kebiasaan.
Itulah barangkali makna terdalam Maulid Nabi.
Mengenang kelahiran Rasulullah SAW bukan sekadar mengingat kapan beliau dilahirkan, tetapi menghadirkan kembali teladan beliau dalam kehidupan.
Sebab tantangan keluarga hari ini mungkin berubah. Teknologi berubah, budaya berubah, cara manusia berkomunikasi berubah.
Tetapi kebutuhan manusia terhadap kasih sayang, keteladanan, rasa aman, dan keluarga yang menjadi tempat pulang tidak pernah benar-benar berubah.
Dan di tengah dunia yang semakin bising, mungkin keluarga justru membutuhkan kembali sesuatu yang sangat sederhana: akhlak Rasulullah SAW yang hidup di dalam rumah.
KOLOM OPINI LAINNYA

Siapa Suruh Ikut Organisasi? Teriak Gen Z

81 Tahun Merdeka, Kemiskinan Kabupaten Tasikmalaya Masih Jadi Pekerjaan Rumah Besar

Memaknai Kemerdekaan Dengan Simpul Keadilan , Toleransi Hingga Saling Menjaga Sesama Manusia

Islam, Birokrasi, dan Moralitas Kekuasaan di Kota Tasikmalaya
