Kita Kebanyakan Scroll, Tapi Benarkah Makin Melek Informasi?

30 Agu 2026, 09.30 WIB
WhatsAppSaluran
Kita Kebanyakan Scroll, Tapi Benarkah Makin Melek Informasi?
Ilustrasi gen z dan media sosialCameraVitaly Gariev/Unsplash

Gentra.id-Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat satu video, tetapi tanpa terasa sudah setengah jam berlalu? Awalnya mungkin kita hanya ingin mengetahui kabar terbaru atau sekadar mencari hiburan setelah menyelesaikan pekerjaan.

Namun satu video kemudian membawa kita pada video berikutnya, lalu muncul potongan berita, komentar warganet, perdebatan politik, informasi kesehatan, sampai unggahan yang membuat kita ikut emosi.

Dalam hitungan menit, kepala kita sudah dipenuhi begitu banyak informasi, meskipun belum tentu satu pun benar-benar kita pahami secara utuh.

Kebiasaan semacam itu kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ponsel berada di tangan hampir sepanjang waktu dan media sosial menjadi salah satu pintu utama masyarakat untuk memperoleh informasi. Kita tidak lagi harus sengaja mencari berita karena berita akan datang sendiri melalui notifikasi, linimasa, grup percakapan, dan rekomendasi algoritma.

Persoalannya kemudian bukan lagi apakah kita mendapatkan informasi atau tidak, melainkan apakah kita mampu memahami, memeriksa, dan menilai informasi tersebut sebelum mempercayainya.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan aktivitas media sosial yang sangat tinggi. DataReportal mencatat sekitar 139 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Januari 2024, atau sekitar separuh populasi nasional pada saat itu.

Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya posisi media sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari komunikasi, hiburan, perdagangan, pendidikan, hingga konsumsi berita. Namun tingginya jumlah pengguna media sosial tidak otomatis menunjukkan bahwa kemampuan literasi masyarakat juga ikut meningkat.

Di sinilah muncul sebuah paradoks yang menarik. Kita mungkin semakin cepat mengetahui sesuatu, tetapi belum tentu semakin dalam memahaminya.

Kita bisa membaca puluhan unggahan dalam sehari, menyaksikan berbagai video informatif, mengikuti perdebatan publik, bahkan ikut menyampaikan pendapat, tetapi semua itu belum tentu membuat kita memiliki kemampuan literasi yang baik.

Sebab literasi bukan hanya persoalan seberapa banyak informasi yang masuk ke kepala, melainkan bagaimana informasi tersebut diproses sebelum berubah menjadi keyakinan dan keputusan.

Ketika Informasi Datang Terlalu Cepat

Dulu, ketika seseorang ingin mengetahui sebuah persoalan, ia harus mencari buku, membaca koran, datang ke perpustakaan, bertanya kepada orang yang dianggap ahli, atau berdiskusi dengan orang lain.

Proses tersebut membutuhkan waktu dan kesabaran. Sekarang, hanya dengan beberapa sentuhan pada layar, kita dapat menemukan ribuan informasi mengenai hampir semua hal.

Kemudahan tersebut tentu merupakan kemajuan besar, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan persoalan baru karena manusia harus menghadapi banjir informasi yang tidak semuanya memiliki kualitas yang sama.

Media sosial kemudian membuat persoalan tersebut menjadi semakin rumit. Informasi yang muncul di layar tidak selalu ditentukan oleh tingkat kebenarannya, tetapi juga oleh kemampuannya menarik perhatian.

Judul yang mengejutkan, pernyataan kontroversial, video yang membuat marah, atau informasi yang menimbulkan ketakutan lebih mudah membuat seseorang berhenti menggulir layar.

Dalam situasi seperti ini, informasi yang paling menarik perhatian bisa saja mengalahkan informasi yang paling penting.

Akibatnya, kita perlahan terbiasa dengan informasi yang serba cepat dan pendek. Artikel panjang dianggap melelahkan, sementara video berdurasi beberapa puluh detik terasa lebih mudah dikonsumsi.

Kita sering membaca judul tanpa membuka keseluruhan berita, melihat potongan video tanpa mengetahui konteksnya, kemudian mengambil kesimpulan berdasarkan komentar orang lain. Padahal, memahami sebuah persoalan sering kali membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada sekadar beberapa detik yang kita habiskan untuk menggulir layar.

Kita Bisa Membaca Banyak, Tetapi Belum Tentu Memahami

Ketika membicarakan literasi Indonesia, kita sering mendengar anggapan bahwa masyarakat kita malas membaca. Kalimat tersebut sebenarnya terlalu sederhana untuk menggambarkan persoalan yang jauh lebih kompleks.

Data Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa Tingkat Kegemaran Membaca Indonesia pada 2023 mencapai 66,77 dan berada dalam kategori sedang, sementara rata-rata masyarakat membaca sekitar lima kali dalam sepekan dengan durasi sekitar 1 jam 47 menit per hari.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas membaca sebenarnya tetap berlangsung. Namun persoalan literasi tidak berhenti pada pertanyaan tentang seberapa sering seseorang membaca.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dibaca, bagaimana seseorang memahami bacaan tersebut, apakah ia mampu membandingkan informasi dari sumber yang berbeda, dan apakah ia mampu mengenali perbedaan antara fakta, opini, asumsi, serta propaganda.

Seseorang dapat membaca puluhan artikel dalam sehari tetapi tetap memiliki literasi yang lemah apabila semua informasi diterima begitu saja.

Sebaliknya, seseorang yang membaca satu tulisan secara mendalam, memeriksa sumbernya, membandingkannya dengan referensi lain, dan mempertanyakan argumentasinya sedang melakukan proses literasi yang jauh lebih substantif.

Karena itu, tantangan literasi di era digital sebenarnya bukan sekadar mengajak masyarakat membaca lebih banyak, tetapi mengajarkan bagaimana membaca dengan lebih kritis.

Ketika Semua Orang Terlihat Seperti Pakar

Media sosial juga melahirkan fenomena yang menarik karena siapa pun kini dapat berbicara tentang hampir semua hal.

Seseorang dapat membuat video mengenai ekonomi, hukum, kesehatan, politik, pendidikan, atau psikologi hanya bermodalkan kamera ponsel dan pengalaman pribadi.

Tidak ada yang salah dengan kebebasan tersebut karena ruang digital memang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Masalah muncul ketika pengalaman pribadi dianggap sebagai kebenaran universal. Satu pengalaman kesehatan dianggap berlaku untuk semua orang, satu kasus hukum digunakan untuk menyimpulkan seluruh persoalan hukum, atau satu video ekonomi dijadikan dasar untuk memahami kondisi perekonomian secara keseluruhan.

Di sinilah batas antara informasi dan pengetahuan menjadi kabur. Informasi hanyalah bahan awal, sedangkan pengetahuan membutuhkan proses memahami konteks, bukti, dan hubungan antara satu informasi dengan informasi lainnya.

Fenomena tersebut membuat media sosial terkadang menciptakan ilusi pengetahuan. Kita merasa sudah memahami sebuah persoalan hanya karena telah menonton beberapa video atau membaca sejumlah unggahan. Padahal, bisa jadi kita baru mengenal permukaannya.

Lebih berbahaya lagi, rasa sudah tahu tersebut sering membuat seseorang tidak lagi merasa perlu mencari sumber lain atau mendengarkan pandangan yang berbeda.

Algoritma dan Ruang Informasi yang Semakin Sempit

Ada satu persoalan lain yang sering luput dari perhatian, yaitu cara algoritma membentuk pengalaman kita di media sosial. Ketika kita sering menonton konten tertentu, platform akan mempelajari perilaku tersebut dan menawarkan konten yang dianggap memiliki kemungkinan besar untuk membuat kita tetap berada di dalam aplikasi.

Akibatnya, informasi yang kita lihat semakin lama semakin sesuai dengan kebiasaan, minat, dan interaksi sebelumnya.

Kondisi ini dapat menciptakan apa yang sering disebut sebagai filter bubble atau gelembung informasi. Kita merasa bahwa pendapat yang muncul di linimasa merupakan gambaran dari pendapat masyarakat secara keseluruhan, padahal yang kita lihat sebenarnya hanya sebagian informasi yang telah disaring berdasarkan perilaku digital kita. Ketika seseorang terus-menerus melihat konten yang memiliki pandangan sama, ia bisa semakin yakin bahwa pandangannya adalah satu-satunya pandangan yang masuk akal.

Di sinilah kemampuan literasi digital menjadi sangat penting. Indeks Literasi Digital Indonesia yang disusun Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center pada 2022 mencatat skor nasional 3,54 dari skala 5 dan masuk kategori sedang. Indeks tersebut tidak hanya melihat kecakapan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup etika digital, keamanan digital, dan budaya digital.

Artinya, kemampuan menggunakan teknologi hanyalah salah satu bagian dari kemampuan hidup di ruang digital.

PISA dan Cermin Kemampuan Membaca Kita

Persoalan literasi juga tercermin dari hasil Programme for International Student Assessment atau PISA. Dalam PISA 2022, skor membaca siswa Indonesia berada pada angka 359, sedangkan rata-rata negara OECD mencapai 476.

Angka tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa kemampuan memahami bacaan masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam dunia pendidikan Indonesia.

Namun hasil tersebut seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai persoalan anak-anak yang kurang mampu membaca buku. Kemampuan literasi yang diuji jauh lebih kompleks karena berkaitan dengan kemampuan menemukan informasi, memahami makna, mengevaluasi teks, dan menggunakan informasi untuk mengambil kesimpulan.

Dengan kata lain, seseorang tidak cukup hanya bisa membaca kalimat, tetapi harus mampu memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sebuah teks.

Kemampuan tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari orang dewasa. Ketika seseorang membaca berita politik, misalnya, ia perlu mengetahui apakah pernyataan yang dikutip benar-benar sesuai dengan konteks.

Ketika menerima informasi kesehatan melalui grup WhatsApp, ia perlu mengetahui siapa sumbernya dan apakah terdapat bukti yang mendukung klaim tersebut.

Ketika melihat unggahan yang menuduh seseorang melakukan sesuatu, ia juga perlu menahan diri sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Kita Sering Tidak Mencari Kebenaran, tetapi Pembenaran

Mungkin bagian paling sulit dari literasi kritis bukanlah mencari informasi, melainkan mengakui bahwa kita mungkin salah. Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan lebih kritis terhadap informasi yang bertentangan dengan pandangannya.

Media sosial dapat memperkuat kecenderungan tersebut karena kita bisa dengan mudah memilih akun, kelompok, dan sumber informasi yang memiliki pandangan serupa.

Ketika menyukai seorang tokoh, kita cenderung lebih mudah percaya pada berita positif tentangnya. Sebaliknya, ketika tidak menyukai seseorang, berita negatif tentang orang tersebut bisa terasa lebih masuk akal meskipun belum tentu telah diverifikasi.

Dalam kondisi seperti itu, fakta tidak lagi menjadi titik awal untuk membentuk pendapat, tetapi justru pendapat yang digunakan untuk memilih fakta mana yang ingin dipercaya.

Padahal berpikir kritis bukan berarti selalu membantah orang lain. Berpikir kritis justru membutuhkan keberanian untuk menguji pendapat sendiri dan berkata, "Mungkin saya keliru." Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi sangat sulit dilakukan ketika seseorang sudah terlanjur merasa yakin.

Literasi yang sehat seharusnya membuat kita semakin terbuka terhadap bukti, bukan semakin keras mempertahankan keyakinan yang belum tentu benar.

Mungkin Kita Hanya Perlu Mengajari Jempol untuk Berhenti

Lalu apa yang bisa dilakukan? Kita tentu tidak mungkin meminta masyarakat meninggalkan media sosial karena teknologi digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Media sosial memiliki terlalu banyak manfaat untuk ditinggalkan, mulai dari pendidikan, ekonomi, komunikasi, hingga ruang partisipasi publik. Yang perlu diperbaiki bukan keberadaan medianya, melainkan kebiasaan kita ketika berhadapan dengan informasi.

Kebiasaan tersebut sebenarnya dapat dimulai dari hal sederhana. Sebelum membagikan sebuah berita, kita bisa membaca keseluruhan isinya dan mencari sumber asli.

Sebelum mempercayai video yang viral, kita dapat mencari informasi pembanding dari sumber lain. Ketika menemukan pernyataan yang membuat marah, kita bisa memberi diri sendiri waktu beberapa menit sebelum menulis komentar.

Kebiasaan kecil semacam ini mungkin terlihat sepele, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam membangun literasi digital.

Kita juga perlu mengubah cara memandang membaca. Membaca bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika mendapatkan tugas sekolah atau kuliah.

Membaca adalah cara untuk memperlambat pikiran di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Dengan membaca buku, laporan penelitian, berita mendalam, dan berbagai perspektif, kita memberikan kesempatan kepada otak untuk melihat persoalan secara lebih utuh daripada sekadar potongan informasi yang muncul di layar.

Pada akhirnya, persoalan literasi Indonesia bukan hanya tentang berapa banyak buku yang mampu kita selesaikan dalam setahun.

Persoalan yang lebih penting adalah apakah setelah membaca dan menerima informasi kita menjadi lebih mampu memahami dunia, atau justru semakin mudah dipengaruhi oleh informasi yang datang kepada kita.

Sebab di tengah banjir informasi, orang yang paling banyak tahu belum tentu paling bijaksana, sementara orang yang paling keras berdebat belum tentu paling memahami persoalan.

Mungkin karena itu kita perlu belajar satu kebiasaan baru di era digital: menunda reaksi untuk memberi kesempatan kepada pikiran bekerja.

Ketika jempol ingin segera membagikan sesuatu, biarkan kepala bertanya lebih dulu. Ketika emosi mulai muncul, beri ruang untuk memeriksa fakta. Ketika sebuah informasi terasa terlalu cocok dengan keyakinan kita, justru di situlah kita perlu sedikit lebih curiga.

Sebab pada akhirnya, menjadi masyarakat yang literat bukan berarti menjadi masyarakat yang selalu memiliki jawaban.

Literasi justru membuat kita sadar bahwa tidak semua hal dapat disimpulkan dalam satu video, satu judul berita, atau satu unggahan di media sosial.

Di tengah dunia yang berlomba menjadi yang pertama berbicara, kemampuan untuk berhenti sejenak, membaca lebih dalam, dan berkata "saya perlu memeriksanya dulu" mungkin merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang paling berharga.

Dukung Gentra.id
Nanang AH
Nanang AH
Gentra Plus LogoGentra Plus

Mari bergabung dan dukung jurnalisme independen kami

Langganan Sekarang
Belum ada berita Gentra Plus saat ini.